Kamis, 08 Maret 2012

Buah Kesederhanaan

Di sebuah gubuk kecil inilah, sebuah kesuksesan dimulai. Memang benar untuk saat ini mungkin sulit dibayangkan bahkan bisa dibilang langka dan tak realistis. Dari sebuah gubuk yang hampir roboh, tepatnya di tengah-tengah kumpulan pohon bambu yang menjulang tinggi dan memberikan suasana sunyi nan kelam. Di samping hamparan sawah, sebelah utara sebuah perumahan, yang diapit sepasang kolam ikan dan sebuah kandang sapi tepat di depannya, yang berhunikan tiga ekor sapi milik pak Sirin, seorang petani dan peternak yang memberikan sepetak tanah demi tegaknya gubuk kusam itu.
Dalam gubuk sempit yang hanya berukuran 4×5 meter itu, ditempati oleh keluarga kecil yang hanya terdiri dari tiga anggota keluarga. Yakni pak Sutir, lelaki berusia 67 tahun, bu Min serta Midah, anak tunggal yang sangat patuh dan santun pada kedua orang tuanya itu.
Kamis pagi ini ia mulai dengan pergi sembahyang ke surau Al-Furqon yang jaraknya 40 m dari gubuk tuanya, tepat di depan rumah pak Sirin. Selesai shalat, kira-kira jam 5 pagi ia sudah mulai berjalan menuju kebun melati yang menjadi ladang hidupnya, dengan topi caping di pundak yang tergantung karena seutas tali yang rapuh berwarna coklat itu  terikat pada lehernya, dan ember bekas cat yang nantinya ia gunakan sebagai tempat menaruh melati hasil petikannya itu. Memang menjadi pemetik melati bukanlah cita-citanya, namun hanya itu yang bisa menghidupi ia dan keluarganya. Setelah berjalan sejauh 3,5 km kini ia telah sampai di desa Kalimenur. Di kebun melati itu sudah terlihat empat orang pemetik yang lain.
“Assalamu ‘alaikum”, ucap Midah sambil memberikan senyum pada rekan kerjanya itu.
“Wa ‘alaikumsalam, tidak biasanya kamu berangkat sesiang ini?”, balas salah satu dari rekan kerjanya.
“Itu karena aku harus mengambil air di sumur surau untuk memasak”, jawab Midah yang sudah mulai memetik melati.
Setelah hampir satu jam mereka mengumpulkan melati, salah satu rekan kerja Midah mengatakan hal yang bisa dikatakan sangat pahit bila itu benar-benar terjadi.
“Apakah kalian sudah mendengar jika kebun ini akan dijadikan sebagai perternakan ayam potong?”, kata orang tersebut.
“Jangan asal bicara kamu”, kata Midah dengan raut muka bingung
“Tapi memang itu yang kemarin dikatakan oleh juragan Marno, Dah”, kata Siti meneruskan penjelasanya.
Mereka berlima pun berpisah menuju rumah masing-masing. Midah yang kini pulang dengan menggenggam selembar uang kertas senilai sepuluh ribu rupiah hasil petikannya itu, dengan raut muka yang berbeda 360˚ dari hari-hari sebelumnya. Mungkin semua itu karena ucapan Siti yang seolah-olah makin menyempitkan nafas didalam jiwanya untuk tetap hidup dengan semakin meningkatnya biaya hidup.
Sesampainya di gubuknya itu, ia menangis di bangku sambil menatap ayahnya yang terbaring lemah di tempat tidur yang berilantaikan tanah tanpa daun pintu.
“Apa yang sedang kau tangisi itu, Dah”, tanya ibunya yang pulang sambil membawa kayu bakar.
“Tidak ada apa-apa, mak”, jawab Midah sambil mengusap air mata yang bercampur dengan keringat hasil dari memetik melati yang ia lakukan tadi.
“Oh ya sudahlah”, jawab ibunya yang berjalan sambil membungkuk akibat usia yang mulai senja.
Empat hari setelah itu, ternyata apa yang dikatakan Siti benar-benar menjadi kenyataan. Seorang petani yang baru pulang dari sawahnya yang letaknya berseberangan dengan kebun yang menjadi lumbung kehidupan Midah itu memberi tahu pada Midah yang baru selesai shalat Ashar di surau,
“Bang, apa benar yang abang katakan itu?”, sambil duduk lesu di pintu keluar surau.
“Benar Dah, tadi aku melihat sendiri saat melati-melati itu di tebangi lalu kebun itu dibakar hingga tinggal abu dan asapnya saja”, terang bang Miun yang merupakan adik kandung pak Sirin.
“Tenanglah Dah, kau tak usah risau. Kau bisa mencari pekerjaan di perumahan sebelah, mungkin menjadi pencuci baju atau apalah yang kau bisa. Allah pasti punya jalan lain untuk orang sepertimu” tambah bang Miun sambil meraih tangan Midah yang masih meneteskan air matanya itu.
Bertambah beratlah beban hidup Midah kini, ia bingung terhadap apa yang akan ia lakukan esok hari untuk menyambung hidupnya. Hanya air mata itu yang mengerti apa yang sedang ia rasakan. Dalam hatinya bergemuruh seolah-olah ia ingin lari dari semua kenyataan hidupnya ini dan membunuh takdir yang telah menyeretnya kedalam sebuah kemiskinan nyata tanpa ujung. Namun bukanlah Midah bila ia tak bisa menyembunyikan semua prahara yang ada, dihadapan orang tuanya itu. Itulah sifat indah dari Midah yang tak ingin menambah beban pikiran orang tuanya.
Selasa pagi kini berbeda, Midah yang biasanya sudah berada di kebun untuk memetik melati kini masih berada di gubuknya sambil mencuci piring bekas makan semalam.
“Kenapa kau masih di sini? Kau sudah bosan? Apa kau marah dengan takdir hidup kita ini?”, tanya ibunya yang sudah tahu berita tentang lenyapnya kebun itu dari tetangganya.
“Tidak mak, tidak sama sekali, Midah hanya ingin berganti pekerjaaan saja untuk menutupi kekurangan hidup kita ini”, jawabnya seolah-olah tiada beban di pundaknya.
Setelah usai dari mencuci piring dan berbagai peralatan masak yang sederhana yang mungkin menjadi salah satu harta bendanya, entah esok hari, mungkin semua itu tinggal kenangan karena untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Midah pun beranjak dari tempat duduk dan menyalami ibunya kemudian ayahnya yang masih berada di kamar tua itu. Tak lama setelah Midah mengucapkan salam ibunya melamun memikirkan betapa berat beban yang harus ditanggung anak tunggalnya sambil menangis dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk anaknya itu.
Mungkin benar apa yang dikatakan bang Miun, Allah punya berbagai rencana yang tak bisa di tebak oleh umatnya. Hingga akhirnya Midah memperoleh pekerjaan untuk mencuci baju menggantikan pembantu bu RW yang tak bisa bekerja karena anaknya sedang di khitan.
“Terima kasih bu”, kata Midah.
“Sama-sama, besok kalau bisa datang kemari lagi, karena si bibi belum bisa bekerja”, ucap bu RW.
“Insya Allah, Bu”, jawab Midah dengan perasaan yang sedang mekar.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama karena baru sampai di depan surau, keadaan seolah-olah memudarkan perasaan Midah, ternyata benar gubuk usangnya sudah dipenuhi para tetangga yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya itu. Midah merangsak masuk ke dalam. Ia terdiam. Melihat ibunya menangis dan ayahnya yang sudah beranjak dari tempat tidur tua itu. Dan disekeliling ibunya hanya para ibu yang mencoba memberikan ketenangan batin untuk menguatkannya.
“Sudah dibawa ke puskesmas, Dah”, jelas ibunya sambil menangis.
“Siapa yang membawanya?”, tanaya Midah yang masih setengah sadar.
“Oleh mantri Rudi, orang perumahan sebelah, Dah”, kata ibunya.
Tak berapa lama kabar duka pun datang dan menambah sunyi sekeliling gubuk kusam itu. Ternyata pak Sutir telah menghadap Allah sesaat setelah merebahkan tubuh tuanya di tempat tidur pasien di pukesmas desa tersebut.
Hampir genap enam bulan, hari-hari yang dijalani keluarga Midah pun seolah berlalu begitu cepat. Kesunyianlah yang masih menaungi keluarga sederhana itu sepeninggal ayahnya. Namun, kini keadaan keluarga Midah jauh lebih baik dari yang sebelumnya, karena kini ia sudah menjadi pekerja tetap sebagai peronce melati di desa Cipawon, yang letaknya tak jauh dari bekas kebunnya dulu. Bahkan sekarang sudah bisa menutupi kebutuhan hidupnya. Sayangnya, keadaan yang sudah lebih baik itu ia rasakan dengan keadaan ibunya yang mulai sakit-sakitan. Ibunya kini sering keluar masuk pukesmas.
“Dah, kenapa kamu belum berangkat bekerja?”, tanya ibunya dengan nada lemah.
“Midah ingin menemani emak di sini, Midah ingin merawat emak, karena emaklah satu-satunya yang Midah miliki saat ini”, balas Midah.
“Biarlah emak berada di sini sendiri, dan biarlah Allah yang menjaga emak, Dah”, lanjut ibunya.
“Baiklah kalau itu yang emak inginkan, Midah akan berangkat bekerja”.
Bulan Ramadhan telah menyapa dan sudah menginjak minggu ke dua, namun kesehatan ibunya belum membaik bahkan semakin parah. Midah tak membawa ibunya berobat ke puskesmas karena itu permintaan dari ibunya, dan hanya di rawat di gubuknya itu. Hingga akhirnya setelah Midah menyantap sahur, ibunya benar-benar pergi untuk selamanya, 24 Agustus 2010, menjadi hari yang sangat berat dalam perjalanan hidup Midah, ia harus kehilangan harta terakhirnya, yakni ibunya.
Sepeninggal ibunya, hidup semakin sunyi, hanya sebatang kara tinggal di gubuk kusam itu. Namun hari demi hari ia lewati dengan tabah dan bertawakal pada-Nya. Hingga suatu saat tiba, dimana ia mendapatkan tawaran untuk mengasuh anak-anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Bukateja. Hal ini ia peroleh berkat bantuan pak Sirin yang menceritakan kisah hidupnya yang membuat imam masjid sekaligus ketua panti asuhan tersebut, yang tinggal di perumahan sebelah, tersentuh dan merasa iri dengan kesederhanaan dan kebesaran hatinya dalam menjalani gerusan waktu dan takdir yang berat itu, pada saat beliau sedang melayat ibu Midah. Dan akhirnya, kini Midah menjadi pengasuh anak-anak yatim dan tetap bekerja sebagai peronce melati yang telah menghidupinya selama ini. Mungkin inilah buah kesderhanaan yang ia petik dari kebesaran hatinya.

                                                                                                Oleh  Ridlo Gilang Wicaksono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar