Di sebuah gubuk kecil inilah, sebuah kesuksesan
dimulai. Memang benar untuk saat ini mungkin sulit dibayangkan bahkan bisa
dibilang langka dan tak realistis. Dari sebuah gubuk yang hampir roboh,
tepatnya di tengah-tengah kumpulan pohon bambu yang menjulang tinggi dan
memberikan suasana sunyi nan kelam. Di samping hamparan sawah, sebelah utara
sebuah perumahan, yang diapit sepasang kolam ikan dan sebuah kandang sapi tepat
di depannya, yang berhunikan tiga ekor sapi milik pak Sirin, seorang petani dan
peternak yang memberikan sepetak tanah demi tegaknya gubuk kusam itu.
Dalam gubuk sempit yang hanya berukuran 4×5 meter
itu, ditempati oleh keluarga kecil yang hanya terdiri dari tiga anggota
keluarga. Yakni pak Sutir, lelaki berusia 67 tahun, bu Min serta Midah, anak
tunggal yang sangat patuh dan santun pada kedua orang tuanya itu.
Kamis pagi ini ia mulai dengan pergi sembahyang
ke surau Al-Furqon yang jaraknya 40 m dari gubuk tuanya, tepat di depan rumah
pak Sirin. Selesai shalat, kira-kira jam 5 pagi ia sudah mulai berjalan menuju
kebun melati yang menjadi ladang hidupnya, dengan topi caping di pundak yang
tergantung karena seutas tali yang rapuh berwarna coklat itu terikat pada lehernya, dan ember bekas cat
yang nantinya ia gunakan sebagai tempat menaruh melati hasil petikannya itu.
Memang menjadi pemetik melati bukanlah cita-citanya, namun hanya itu yang bisa
menghidupi ia dan keluarganya. Setelah berjalan sejauh 3,5 km kini ia telah
sampai di desa Kalimenur. Di kebun melati itu sudah terlihat empat orang
pemetik yang lain.
“Assalamu ‘alaikum”, ucap Midah sambil memberikan
senyum pada rekan kerjanya itu.
“Wa ‘alaikumsalam, tidak biasanya kamu berangkat
sesiang ini?”, balas salah satu dari rekan kerjanya.
“Itu karena aku harus mengambil air di sumur
surau untuk memasak”, jawab Midah yang sudah mulai memetik melati.
Setelah hampir satu jam mereka mengumpulkan
melati, salah satu rekan kerja Midah mengatakan hal yang bisa dikatakan sangat
pahit bila itu benar-benar terjadi.
“Apakah kalian sudah mendengar jika kebun ini
akan dijadikan sebagai perternakan ayam potong?”, kata orang tersebut.
“Jangan asal bicara kamu”, kata Midah dengan raut
muka bingung
“Tapi memang itu yang kemarin dikatakan oleh
juragan Marno, Dah”, kata Siti meneruskan penjelasanya.
Mereka berlima pun berpisah menuju rumah
masing-masing. Midah yang kini pulang dengan menggenggam selembar uang kertas
senilai sepuluh ribu rupiah hasil petikannya itu, dengan raut muka yang berbeda
360˚ dari hari-hari sebelumnya. Mungkin semua itu
karena ucapan Siti yang seolah-olah makin menyempitkan nafas didalam jiwanya
untuk tetap hidup dengan semakin meningkatnya biaya hidup.
Sesampainya di gubuknya itu, ia menangis di
bangku sambil menatap ayahnya yang terbaring lemah di tempat tidur yang
berilantaikan tanah tanpa daun pintu.
“Apa yang sedang kau tangisi itu, Dah”, tanya
ibunya yang pulang sambil membawa kayu bakar.
“Tidak ada apa-apa, mak”, jawab Midah sambil
mengusap air mata yang bercampur dengan keringat hasil dari memetik melati yang
ia lakukan tadi.
“Oh ya sudahlah”, jawab ibunya yang berjalan
sambil membungkuk akibat usia yang mulai senja.
Empat hari setelah itu, ternyata apa yang
dikatakan Siti benar-benar menjadi kenyataan. Seorang petani yang baru pulang
dari sawahnya yang letaknya berseberangan dengan kebun yang menjadi lumbung
kehidupan Midah itu memberi tahu pada Midah yang baru selesai shalat Ashar di
surau,
“Bang, apa benar yang abang katakan itu?”, sambil
duduk lesu di pintu keluar surau.
“Benar Dah, tadi aku melihat sendiri saat
melati-melati itu di tebangi lalu kebun itu dibakar hingga tinggal abu dan
asapnya saja”, terang bang Miun yang merupakan adik kandung pak Sirin.
“Tenanglah Dah, kau tak usah risau. Kau bisa
mencari pekerjaan di perumahan sebelah, mungkin menjadi pencuci baju atau
apalah yang kau bisa. Allah pasti punya jalan lain untuk orang sepertimu”
tambah bang Miun sambil meraih tangan Midah yang masih meneteskan air matanya
itu.
Bertambah beratlah beban hidup Midah kini, ia
bingung terhadap apa yang akan ia lakukan esok hari untuk menyambung hidupnya.
Hanya air mata itu yang mengerti apa yang sedang ia rasakan. Dalam hatinya
bergemuruh seolah-olah ia ingin lari dari semua kenyataan hidupnya ini dan
membunuh takdir yang telah menyeretnya kedalam sebuah kemiskinan nyata tanpa
ujung. Namun bukanlah Midah bila ia tak bisa menyembunyikan semua prahara yang
ada, dihadapan orang tuanya itu. Itulah sifat indah dari Midah yang tak ingin
menambah beban pikiran orang tuanya.
Selasa pagi kini berbeda, Midah yang biasanya
sudah berada di kebun untuk memetik melati kini masih berada di gubuknya sambil
mencuci piring bekas makan semalam.
“Kenapa kau masih di sini? Kau sudah bosan? Apa
kau marah dengan takdir hidup kita ini?”, tanya ibunya yang sudah tahu berita
tentang lenyapnya kebun itu dari tetangganya.
“Tidak mak, tidak sama sekali, Midah hanya ingin
berganti pekerjaaan saja untuk menutupi kekurangan hidup kita ini”, jawabnya
seolah-olah tiada beban di pundaknya.
Setelah usai dari mencuci piring dan berbagai
peralatan masak yang sederhana yang mungkin menjadi salah satu harta bendanya,
entah esok hari, mungkin semua itu tinggal kenangan karena untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya. Midah pun beranjak dari tempat duduk dan menyalami ibunya kemudian
ayahnya yang masih berada di kamar tua itu. Tak lama setelah Midah mengucapkan
salam ibunya melamun memikirkan betapa berat beban yang harus ditanggung anak
tunggalnya sambil menangis dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk
anaknya itu.
Mungkin benar apa yang dikatakan bang Miun, Allah
punya berbagai rencana yang tak bisa di tebak oleh umatnya. Hingga akhirnya
Midah memperoleh pekerjaan untuk mencuci baju menggantikan pembantu bu RW yang
tak bisa bekerja karena anaknya sedang di khitan.
“Terima kasih bu”, kata Midah.
“Sama-sama, besok kalau bisa datang kemari lagi,
karena si bibi belum bisa bekerja”, ucap bu RW.
“Insya Allah, Bu”, jawab Midah dengan perasaan
yang sedang mekar.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama karena
baru sampai di depan surau, keadaan seolah-olah memudarkan perasaan Midah,
ternyata benar gubuk usangnya sudah dipenuhi para tetangga yang berada di
sekitar lingkungan tempat tinggalnya itu. Midah merangsak masuk ke dalam. Ia
terdiam. Melihat ibunya menangis dan ayahnya yang sudah beranjak dari tempat
tidur tua itu. Dan disekeliling ibunya hanya para ibu yang mencoba memberikan
ketenangan batin untuk menguatkannya.
“Sudah dibawa ke puskesmas, Dah”, jelas ibunya
sambil menangis.
“Siapa yang membawanya?”, tanaya Midah yang masih
setengah sadar.
“Oleh mantri Rudi, orang perumahan sebelah, Dah”,
kata ibunya.
Tak berapa lama kabar duka pun datang dan
menambah sunyi sekeliling gubuk kusam itu. Ternyata pak Sutir telah menghadap
Allah sesaat setelah merebahkan tubuh tuanya di tempat tidur pasien di pukesmas
desa tersebut.
Hampir genap enam bulan, hari-hari yang dijalani
keluarga Midah pun seolah berlalu begitu cepat. Kesunyianlah yang masih
menaungi keluarga sederhana itu sepeninggal ayahnya. Namun, kini keadaan
keluarga Midah jauh lebih baik dari yang sebelumnya, karena kini ia sudah
menjadi pekerja tetap sebagai peronce melati di desa Cipawon, yang letaknya tak
jauh dari bekas kebunnya dulu. Bahkan sekarang sudah bisa menutupi kebutuhan
hidupnya. Sayangnya, keadaan yang sudah lebih baik itu ia rasakan dengan
keadaan ibunya yang mulai sakit-sakitan. Ibunya kini sering keluar masuk
pukesmas.
“Dah, kenapa kamu belum berangkat bekerja?”,
tanya ibunya dengan nada lemah.
“Midah ingin menemani emak di sini, Midah ingin
merawat emak, karena emaklah satu-satunya yang Midah miliki saat ini”, balas
Midah.
“Biarlah emak berada di sini sendiri, dan biarlah
Allah yang menjaga emak, Dah”, lanjut ibunya.
“Baiklah kalau itu yang emak inginkan, Midah akan
berangkat bekerja”.
Bulan Ramadhan telah menyapa dan sudah menginjak
minggu ke dua, namun kesehatan ibunya belum membaik bahkan semakin parah. Midah
tak membawa ibunya berobat ke puskesmas karena itu permintaan dari ibunya, dan
hanya di rawat di gubuknya itu. Hingga akhirnya setelah Midah menyantap sahur,
ibunya benar-benar pergi untuk selamanya, 24 Agustus 2010, menjadi hari yang
sangat berat dalam perjalanan hidup Midah, ia harus kehilangan harta
terakhirnya, yakni ibunya.
Sepeninggal ibunya, hidup semakin sunyi, hanya
sebatang kara tinggal di gubuk kusam itu. Namun hari demi hari ia lewati dengan
tabah dan bertawakal pada-Nya. Hingga suatu saat tiba, dimana ia mendapatkan
tawaran untuk mengasuh anak-anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Bukateja. Hal ini
ia peroleh berkat bantuan pak Sirin yang menceritakan kisah hidupnya yang
membuat imam masjid sekaligus ketua panti asuhan tersebut, yang tinggal di
perumahan sebelah, tersentuh dan merasa iri dengan kesederhanaan dan kebesaran
hatinya dalam menjalani gerusan waktu dan takdir yang berat itu, pada saat
beliau sedang melayat ibu Midah. Dan akhirnya, kini Midah menjadi pengasuh
anak-anak yatim dan tetap bekerja sebagai peronce melati yang telah
menghidupinya selama ini. Mungkin inilah buah kesderhanaan yang ia petik dari
kebesaran hatinya.
Oleh Ridlo Gilang Wicaksono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar