Sebuah mahad yang
didirikan atas usulan ustadz Muhammad Ridhwan dan haji Hadiono, terletak 5 km
dari alun-alun kota. Walaupun baru dibangun, mahad tersebut berhasil
menghidupkan dakwah islam di desa itu. Setiap selesai shalat Subuh, sebelum dan
sesudah sholat Zhuhur, setelah sholat Ashar, setelah sholat Maghrib, dan
kadang-kadang setelah sholat ‘Isya, setiap harinya diadakan kajian-kajian
materi yang berbeda jenisnya.
Seorang santri yang sering dipanggil Sahlan bertempat
tinggal di sebuah rumah yang terletak di depan mahad di seberang jalan.
Sekarang ia duduk di kelas XII IPA. Beberapa bulan lagi ia akan menghadapi
ujian nasional dan ujian sekolah. Ia semakin sibuk dari bulan-bulan sebelumnya.
Di malam minggu akhir tahun Masehi setelah sholat ‘Isya,
Sahlan biasanya membahas matan Al-Ajrumiyah dan Fathul Majid sejarah
Kitabut-Tauhid. Namun, kali ini di mahad sedang diadakan Mabit untuk para
santri kecil. Sahlan dan temannya, Sufyan, tidur di aula untuk menjaga para
santri. Seperti biasa, Sahlan selalu bangun di sepertiga malam yang terakhir
untuk sholat malam.
Kembali Sahlan tidur, tidur yang lelap. Ia bermimpi,
mimpi yang belum pernah ia mimpikan sebelumnya. Ia diajak kakak ipar sepupunya
ke desanya karena sedang libur sekolah.
Tiba-tiba ia melihat segerombolan orang yang membawa patung dari batu, beberapa
kilometer sebelum mencapai desa tujuan. Lalu sampailah ia di rumah kakak ipar
sepupunya dan ia lihat di seluruh bagian desa itu terdapat anyaman janur dan
didekatnya ada sesajen.
Sahlan pun bertanya pada kakak ipar sepupunya.
“Maaf kak, kulihat tadi sepanjang jalan, di setiap rumah
pasti terdapat sesajen dan anyaman janur. Memang untuk apa itu?”
Sekejap mimpinya beralih. Sahlan kini berada di masjid.
Ia bertemu dengan orang yang tiba-tiba mengajaknya untuk sholat berjamah.
Setelah dikumandangkan iqomah, berkata imam masjid kepada Sahlan.
“Mas luruskan”
Kemudian Sahlan sholat hingga sholat rawatib sesudahnya.
Ia berniat sholat tahajud malam ini agar ia bisa lulus ujian. Saat ia pulang,
ia melihat seseorang berambut keriting panjang hitam pekat berdiri di pintu
masjid dan menatap dengan jengkel kepada
Sahlan.
“Aku akan menunggumu sampai kau dapat menemuiku dalam
keadaan baik”, kata orang itu.
“Maaf, apa maksud anda?”.
Sebelum
laki-laki itu menjawab, mimpi Sahlan beralih lagi. Kali ini ia sedang bersama
teman-temannya di sekolah, kebetulan setelah pelajaran olahraga. Sahlan
mengganti pakaiannya. Setelah itu ia langsung ke masjid Baitul Fitroh untuk
shalat Dhuha agar ia bisa lulus ujian. Setelah salam kedua, tiba-tiba duduk
disampingnya seseorang berambut panjang keriting hitam pekat terduduk di
sampingnya memandang Sahlan dengan rasa benci.
“Aku
akan menunggumu sampai kau dapat menemuiku dalam keadaan baik ”.
Kembali
mimpi Sahlan beralih. Kini ia berada di dalam kelas, sedang mengerjakan ulangan
umum semester ganjil. Sebelum memulai mengerjakan soal, seorang pengawas
membacaka peraturan-peraturan untuk mengikuti ulangan umum semester ganjil.
Seorang pengawas lain berkeliling untuk mengecek kartu tes. Saat pengawas itu
tiba di dekat tempat duduk Sahlan yang ada di deretan belakang, pengawas
tersebut memberi Sahlan sebuah kertas yang dilipat menjadi dua bagian.
“Maaf
pak, saya tidak meminta kertas buram”.
“Ini
tak ada hubungannya dengan ulangan, saya hanya menyampaikan kertas ini dari
seseorang berambut panjang keriting hitam pekat. Dia menyuruh saya untuk
meyampaikan secepatnya. Katanya penting”.
“Terima
kasih, Pak”.
Sahlan
memaparkan kertas itu. Saat kertas itu di balik ke sisi lain, terdapat tulisan
di kertas itu
Ketidakjujuran
akan mencelakakanmu
Walaupun
kamu tak dalam keadaan ketakutan
Kejujuran
akan menyelamatkanmu dalam setiap keadaan
Berbuatlah
sesukamu, niscaya kau akan mendapatkan balasannya
Tak
akan pernah berkurang
Timbangannya
Sahlan
tak memedulikannya. Kalau ia tak bisa mengerjakan, tentu ia akan mencontek. Ia
berpikir bahwa bukankah orang tua ingin nilai anaknya bagus.
Sesaat
setelah ia membaca tulisan surat itu, ia terkejut. Semua peserta ulangan dan
pengawasnya berubah menjadi pria berambut panjang keriting hitam pekat yang
pernah ia temui. Sahlan langsung terbangun dari tidurnya dan membangunkan
Sufyan dan beberapa orang lainnya. Berkatalah Sufyan.
“Kau
kenapa, Sahlan?”
“Aku?
Tak apa. Maaf mengganggu kalian”
Sahlan
lalu pergi membawa catatan kajian tentang syirik dari ustadz Syaifuddin Zuhri,
LC. Ia mencuci tangannya tiga kali, lalu berwudhu. Setelah itu ia pergi ke
ruang di belakang aula untuk membaca catatannya. Lama-kelamaan ia pun tertidur
dan bermimpi.
Sahlan berada
di tempat kakak ipar sepupunya, desa yang penuh dengan sesajen dan
patung-patung.
“Sebagian
orang Islam sekarang lebih parah dari orang-orang jahiliyah”.
“Kenapa
begitu?”, sahut kakak ipar sepupunya.
“Orang-orang
jahiliyah menyembah berhala orang-orang yang saleh, sedangkan yang kita
bicarakan ini, mereka mengagungkan Dewi Sri. Memang, siapa Dewi Sri? Tak ada
asal usulnya”.
Lalu
kakak ipar sepupunya membuang sesajen itu karena teringat dengan surat An-Nisa:
48 yang sering dibacanya oleh anaknya karena ia sedang menghafalkan ayat ini.
Mimpi
Sahlan beralih. Ia sedang mengikuti KBM Kimia. Kebetulan pengajarnya humoris.
Maka, ini memancing Sahlan dan teman-temannya untuk membual. Padahal yang
disampaikan adalah benar, hanya saja pengajar membuatnya menjadi meriah. Lalu
datanglah pencatat absensi siawa.
“Permisi,
ada yang tidak masuk?”.
“Nihil”.
“Terima
Kasih, pak. Oh ya, Sahlan , kemari sebentar”, Pencatat itu ingin bicara dengan
Sahlan empat mata. “Seseorang yang berambut hitam pekat dan panjang lagi
keriting berpesan agar kamu menjenguk sepupumu yang sedang sakit”.
Sahlan
menolaknya karena ia sangat membenci sepupunya yang telah menghilangkan uang
sebesar Rp 875.000 yang akan digunakan untuk membayar SPP.
Sahlan
tiba-tiba berada di puncak gunung dan diikat kayu besar. Dan datanglah
segerombolan orang berambut keriting tadi dengan membawa dua buah pedang pada
masing-masing tangan mereka.
“Sudah
ku katakan aku akan menemuimu jika kau sudah berubah jadi lebih baik. Namun,
apa guna aku menunggu? Keadaanmu semakin buruk”, kata salah seorang dari
sekelompok orang tersebut dan menghunuskan pedangnya yang membuat Sahlan
memekik kesakitan.
“Ini
untuk sholatmu yang tujuan awalnya menjadikanmu lulus ujian. Seandainya tujuan
itu hanya disertakan saja, tidak kau jadikan ia sebagai tujuan utamamu, tentu
itu lebih baik”.
Datang
orang kedua dan menancapkan pedangnya ke lambung Sahlan, maka Sahlan berteriak
sangat keras.
“Ini
untuk ketidakjujuranmu. Bukankah telah sampai padamu bahwa orang jahiliyah
sangat membenci ketidakjujuran. Bahkan sebagian akhlakmu lebih buruk dari orang
jahiliyah?”.
Datang
orang ke tiga dan menusukkan pedangnya ke jantung Sahlan.
“Ini
untukmu yang tak mau menjaga lisanmu. Kau menganggap ini sesuatu yang mudah padahal ini berarti
banyak”.
Datanglah
orang keempat. Mereka serentak mencabut pedang secara berturut-turut.
“Ini
untuk yang tak mau berdamai dengan saudara dan tak mau menjenguknya ketika
sakit”.
Kemudian,
berkata salah seorang kepada Sahlan”.
“Cukup!
Hei, kau, makanlah daun ini”.
Sekejap
tubuh Sahlan pun menjadi normal kembali dan tali yang mengikat tubuhnya
menghilang. Sahlan pun menangis dan menyesali akan perbuatannya itu. Berkata
lagi orang itu.
“Telah
sampai kepadaku jadilah kau di dunia ini seperti seorang musafir yang singgah
sebentar di suatu negeri untuk melanjutkan perjalanannya dan hari ini lebih
cepat lenyapnya, sedangkan hari esok bagi yang melihat, sangat dekat masanya.
Jika kau mendapat hidayah taufik dan nikmat, bersyukurlah. Jangan kau gunakan
waktumu sia-sia dengan memakai nikmat yang diberikan Rabbmu untuk bermaksiat
kepada-Nya. Ingatlah akan semua itu, semua diciptakan hanya menjadi fasilitas
jin dan manusia untuk beribadah pada Allah”.
Sahlan
terbangun dari mimpinya dan terengah-engah. Ia sangat ketakutan, timbul
keinginan untuk bertaubat. Setelah sholat Shubuh, sepupunya datang membawa buku
catatannya yang tertinggal di ruang belakang aula. Sahlan berlari dan memeluk
sepupnya itu untuk meminta maaf sambil menangis.
Oleh Joni Apriyanto, Oceanerz_20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar