Rabu, 07 Maret 2012

Kerikil di dalam Sepatu


              Sebuah mahad yang didirikan atas usulan ustadz Muhammad Ridhwan dan haji Hadiono, terletak 5 km dari alun-alun kota. Walaupun baru dibangun, mahad tersebut berhasil menghidupkan dakwah islam di desa itu. Setiap selesai shalat Subuh, sebelum dan sesudah sholat Zhuhur, setelah sholat Ashar, setelah sholat Maghrib, dan kadang-kadang setelah sholat ‘Isya, setiap harinya diadakan kajian-kajian materi yang berbeda jenisnya.
            Seorang santri yang sering dipanggil Sahlan bertempat tinggal di sebuah rumah yang terletak di depan mahad di seberang jalan. Sekarang ia duduk di kelas XII IPA. Beberapa bulan lagi ia akan menghadapi ujian nasional dan ujian sekolah. Ia semakin sibuk dari bulan-bulan sebelumnya.
            Di malam minggu akhir tahun Masehi setelah sholat ‘Isya, Sahlan biasanya membahas matan Al-Ajrumiyah dan Fathul Majid sejarah Kitabut-Tauhid. Namun, kali ini di mahad sedang diadakan Mabit untuk para santri kecil. Sahlan dan temannya, Sufyan, tidur di aula untuk menjaga para santri. Seperti biasa, Sahlan selalu bangun di sepertiga malam yang terakhir untuk sholat malam.
            Kembali Sahlan tidur, tidur yang lelap. Ia bermimpi, mimpi yang belum pernah ia mimpikan sebelumnya. Ia diajak kakak ipar sepupunya ke desanya karena sedang libur  sekolah. Tiba-tiba ia melihat segerombolan orang yang membawa patung dari batu, beberapa kilometer sebelum mencapai desa tujuan. Lalu sampailah ia di rumah kakak ipar sepupunya dan ia lihat di seluruh bagian desa itu terdapat anyaman janur dan didekatnya ada sesajen.
            Sahlan pun bertanya pada kakak ipar sepupunya.
            “Maaf kak, kulihat tadi sepanjang jalan, di setiap rumah pasti terdapat sesajen dan anyaman janur. Memang untuk apa itu?”
            Sekejap mimpinya beralih. Sahlan kini berada di masjid. Ia bertemu dengan orang yang tiba-tiba mengajaknya untuk sholat berjamah. Setelah dikumandangkan iqomah, berkata imam masjid kepada Sahlan.
            “Mas luruskan”
            Kemudian Sahlan sholat hingga sholat rawatib sesudahnya. Ia berniat sholat tahajud malam ini agar ia bisa lulus ujian. Saat ia pulang, ia melihat seseorang berambut keriting panjang hitam pekat berdiri di pintu masjid dan  menatap dengan jengkel kepada Sahlan.
            “Aku akan menunggumu sampai kau dapat menemuiku dalam keadaan baik”, kata orang itu.
            “Maaf, apa maksud anda?”.
Sebelum laki-laki itu menjawab, mimpi Sahlan beralih lagi. Kali ini ia sedang bersama teman-temannya di sekolah, kebetulan setelah pelajaran olahraga. Sahlan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia langsung ke masjid Baitul Fitroh untuk shalat Dhuha agar ia bisa lulus ujian. Setelah salam kedua, tiba-tiba duduk disampingnya seseorang berambut panjang keriting hitam pekat terduduk di sampingnya memandang Sahlan dengan rasa benci.
“Aku akan menunggumu sampai kau dapat menemuiku dalam keadaan baik ”.
Kembali mimpi Sahlan beralih. Kini ia berada di dalam kelas, sedang mengerjakan ulangan umum semester ganjil. Sebelum memulai mengerjakan soal, seorang pengawas membacaka peraturan-peraturan untuk mengikuti ulangan umum semester ganjil. Seorang pengawas lain berkeliling untuk mengecek kartu tes. Saat pengawas itu tiba di dekat tempat duduk Sahlan yang ada di deretan belakang, pengawas tersebut memberi Sahlan sebuah kertas yang dilipat menjadi dua bagian.
“Maaf pak, saya tidak meminta kertas buram”.
“Ini tak ada hubungannya dengan ulangan, saya hanya menyampaikan kertas ini dari seseorang berambut panjang keriting hitam pekat. Dia menyuruh saya untuk meyampaikan secepatnya. Katanya penting”.
“Terima kasih, Pak”.
Sahlan memaparkan kertas itu. Saat kertas itu di balik ke sisi lain, terdapat tulisan di kertas itu
Ketidakjujuran akan mencelakakanmu
Walaupun kamu tak dalam keadaan ketakutan
Kejujuran akan menyelamatkanmu dalam setiap keadaan
Berbuatlah sesukamu, niscaya kau akan mendapatkan balasannya
Tak akan pernah berkurang
Timbangannya
Sahlan tak memedulikannya. Kalau ia tak bisa mengerjakan, tentu ia akan mencontek. Ia berpikir bahwa bukankah orang tua ingin nilai anaknya bagus.
Sesaat setelah ia membaca tulisan surat itu, ia terkejut. Semua peserta ulangan dan pengawasnya berubah menjadi pria berambut panjang keriting hitam pekat yang pernah ia temui. Sahlan langsung terbangun dari tidurnya dan membangunkan Sufyan dan beberapa orang lainnya. Berkatalah Sufyan.
“Kau kenapa, Sahlan?”
“Aku? Tak apa. Maaf mengganggu kalian”
Sahlan lalu pergi membawa catatan kajian tentang syirik dari ustadz Syaifuddin Zuhri, LC. Ia mencuci tangannya tiga kali, lalu berwudhu. Setelah itu ia pergi ke ruang di belakang aula untuk membaca catatannya. Lama-kelamaan ia pun tertidur dan bermimpi.
Sahlan berada di tempat kakak ipar sepupunya, desa yang penuh dengan sesajen dan patung-patung.
“Sebagian orang Islam sekarang lebih parah dari orang-orang jahiliyah”.
“Kenapa begitu?”, sahut kakak ipar sepupunya.
“Orang-orang jahiliyah menyembah berhala orang-orang yang saleh, sedangkan yang kita bicarakan ini, mereka mengagungkan Dewi Sri. Memang, siapa Dewi Sri? Tak ada asal usulnya”.
Lalu kakak ipar sepupunya membuang sesajen itu karena teringat dengan surat An-Nisa: 48 yang sering dibacanya oleh anaknya karena ia sedang menghafalkan ayat ini.
Mimpi Sahlan beralih. Ia sedang mengikuti KBM Kimia. Kebetulan pengajarnya humoris. Maka, ini memancing Sahlan dan teman-temannya untuk membual. Padahal yang disampaikan adalah benar, hanya saja pengajar membuatnya menjadi meriah. Lalu datanglah pencatat absensi siawa.
“Permisi, ada yang tidak masuk?”.
“Nihil”.
“Terima Kasih, pak. Oh ya, Sahlan , kemari sebentar”, Pencatat itu ingin bicara dengan Sahlan empat mata. “Seseorang yang berambut hitam pekat dan panjang lagi keriting berpesan agar kamu menjenguk sepupumu yang sedang sakit”.
Sahlan menolaknya karena ia sangat membenci sepupunya yang telah menghilangkan uang sebesar Rp 875.000 yang akan digunakan untuk membayar SPP.
Sahlan tiba-tiba berada di puncak gunung dan diikat kayu besar. Dan datanglah segerombolan orang berambut keriting tadi dengan membawa dua buah pedang pada masing-masing tangan mereka.
“Sudah ku katakan aku akan menemuimu jika kau sudah berubah jadi lebih baik. Namun, apa guna aku menunggu? Keadaanmu semakin buruk”, kata salah seorang dari sekelompok orang tersebut dan menghunuskan pedangnya yang membuat Sahlan memekik kesakitan.
“Ini untuk sholatmu yang tujuan awalnya menjadikanmu lulus ujian. Seandainya tujuan itu hanya disertakan saja, tidak kau jadikan ia sebagai tujuan utamamu, tentu itu lebih baik”.
Datang orang kedua dan menancapkan pedangnya ke lambung Sahlan, maka Sahlan berteriak sangat keras.
“Ini untuk ketidakjujuranmu. Bukankah telah sampai padamu bahwa orang jahiliyah sangat membenci ketidakjujuran. Bahkan sebagian akhlakmu lebih buruk dari orang jahiliyah?”.
Datang orang ke tiga dan menusukkan pedangnya ke jantung Sahlan.
“Ini untukmu yang tak mau menjaga lisanmu. Kau menganggap  ini sesuatu yang mudah padahal ini berarti banyak”.
Datanglah orang keempat. Mereka serentak mencabut pedang secara berturut-turut.
“Ini untuk yang tak mau berdamai dengan saudara dan tak mau menjenguknya ketika sakit”.
Kemudian, berkata salah seorang kepada Sahlan”.
“Cukup! Hei, kau, makanlah daun ini”.
Sekejap tubuh Sahlan pun menjadi normal kembali dan tali yang mengikat tubuhnya menghilang. Sahlan pun menangis dan menyesali akan perbuatannya itu. Berkata lagi orang itu.
“Telah sampai kepadaku jadilah kau di dunia ini seperti seorang musafir yang singgah sebentar di suatu negeri untuk melanjutkan perjalanannya dan hari ini lebih cepat lenyapnya, sedangkan hari esok bagi yang melihat, sangat dekat masanya. Jika kau mendapat hidayah taufik dan nikmat, bersyukurlah. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia dengan memakai nikmat yang diberikan Rabbmu untuk bermaksiat kepada-Nya. Ingatlah akan semua itu, semua diciptakan hanya menjadi fasilitas jin dan manusia untuk beribadah pada Allah”.
Sahlan terbangun dari mimpinya dan terengah-engah. Ia sangat ketakutan, timbul keinginan untuk bertaubat. Setelah sholat Shubuh, sepupunya datang membawa buku catatannya yang tertinggal di ruang belakang aula. Sahlan berlari dan memeluk sepupnya itu untuk meminta maaf sambil menangis.



                                                                                          Oleh  Joni Apriyanto, Oceanerz_20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar