Kamis, 31 Mei 2012

Singgah di Tribun Jogja

Setelah menyelesaikan praktikum lapangan penginderaan jauh dasar di sekitar Stasiun Jebres, Solo, saya menyempatkan sejenak untuk menuangkan ide tulisan mengenai Gunung Api Nglanggeran, keinginan muncul secara alamiah namun sebenarnya bahan sudah ada semenjak kami diberi sebuah tantangan dari pihak dosen pengajar Kuliah Kerja Lapangan 1 agar mampu mempublikasikan hasil dari tugas mandiri yang telah dilaksanakan tiap kelompok. Bisa dikatakan hal ini merupakan untung-untung berhadiah. Dan mungkin saya salah satu yang beruntung sehingga buah coretan dalam sebuah artikel dapat dimuat di salah satu media cetak, Tribun Jogja. It's Lucky!




( 31 Mei 2012 @Tribun Jogja )

Selasa, 29 Mei 2012

Asmara di Gunung Api Purba Nglanggeran


(Foto KKL 1 - Kelompok D2)

             Dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan 1 (KKL 1) Mandiri yang menjadi salah satu mata kuliah wajib yang harus diampu oleh seluruh mahasiswa Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada di semester kedua ini, kelompok kami berkesempatan unuk mengenal dan memahami Gunung Api Purba Nglanggeran secara lebih mendalam lagi, terutama mengenai pengenalan bentang lahannya. Dan objek yang menjadi pengamatan kami adalah Gunung Api Purba Nglanggeran itu sendiri.
            Nglanggeran merupakan salah satu wilayah gunung api purba yang terdapat di wilayah Baturagung, Bantul, DIY. Gunung Api Purba Nglanggeran pada ketinggian 649 mdpl. Umur gunung api purba ini diperkiraan hampir sama dengan gunung api purba lain, seperti Gunung Api Purba Parangtritis, Gunung Api Purba Gadjah Mungkur dan lain-lain. Gunung Api purba ini tak lagi aktif dan hanya menyisakan batu-batu besar hasil muntahanannya beberapa juta tahun silam.
                        Berdasarkan pengamatan bentanglahan yang ada, yaitu terdiri dari bongkahan-bongkahan batu raksasa hasil muntahan gunung api purba, pemukiman penduduk di sini mempunyai pola mengelompok. Hal ini karena topografi di daerah ini sangat sedikit yang datar. Batuan yang berada di kompleks Gunung Api Purba Nglanggreran adalah batuan breksi gunung api, sesuai dengan asal usulnya yaitu gunung api. Tanahnya pun tergolong subur. Hal tersebut lebih dikarenakan bentuklahan yang terdapat pada wilayah Nglanggeran merupakan betuklahan vulkanik, terjadi akibat dari aktifitas magma baik di dalam bumi yang bergerak menuju ke permukaan.
            Dan hal itu dimanfaatkan menjadi salah satu bentuk mata pencaharian masyarakatnya, sebagian besar adalah petani yang masih mengandalkan sistem sawah tadah hujan. Selain itu, disisi lain perbukitan dimanfaatkan sebagai kebun Kakao. Dan kesemuanya dijadikan bahan pemenuh kubutuhan hidup masyarakatnya. Berbagai macam hewanpun ditemukan di sini, seperti monyet, macan hutan, serangga dan lain-lain begitu juga berbagai vegetasi yang tumbuh juga sangat bervariasi.
            Semuanya bermuara pada rasa yang sama dan mungkin inilah yang dinamakan asmara di Gunung Api Purba Nglanggeran, sebuah rasa ingin kembali mengunjungi perbukitan yang selain terdapat banyak hal didalamnya juga menawarkan sebuah panorama alam, lukisan khas Sang pemilik hidup. Yang menghasilkan sebuah suasana nan nyaman, senyaman Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan semoga nantinya keadaan yang sama dapat tetap terjaga, hingga kelak dimasa yang akan datang kami dapat kembali untuk mengenang asmara dari sebuah Gunung Api Purba Nglanggeran.

          Yogyakarta, 26 Mei 2012
                        _G I E_

Selasa, 15 Mei 2012

Merintis Geografi Perdesaan Untuk Rakyat


                  Harapan awal yang muncul dari coretan ini yakni agar semoga apa yang tertuang didalamnya, dari sebuah pemikiran sederhana tidak hanya menjadi sebuah coretan belaka. Namun lebih dari sekadar itu, yang nantinya bisa menghembuskan sebuah nafas perubahan dan perbaikan bagi negeri ini, Indonesia. Dan semoga judul dari coretan ini bukan sekadar pemanis, yang tanpa ada makna ataupun tujuan yang ingin diwujudkan. Karena perubahan akan perbaikan itu perlu dan hal tersebut haruslah diperjuangkan.
                        Mewujudkan sebuah perdesaan bagi rakyat berarti mengembalikan apa yang memang seharusnya hal tersebut dimiliki oleh masyarakat desa seutuhnya dan tanpa ditopangi kepentingan kelompok ataupun kepentingan pribadi. Yang mungkin hal ini sangat kita rasakan seutuhnya. Dan mungkin hal itu pula yang masih membuat negara Indonesia masih berada pada taraf negara berkembang dengan banyak lilitan hutang. Dan coretan ini merupakan paradigma buah pemikiran sederhana generasi muda yang turut prihatin dengan keadaan negara ini. Semoga nantinya kami bisa ikut berkontribusi dalam membangun sebuah perubahan.
                        Merintis berarti memulai sesuatu dari awal, melakukan hal yang dimulai dari titik nol atau dari titik terendah. Yang lebih tepanya yakni membuka jalan baru menuju sesuatu hal yang telah direncanakan. Berat memang terlihat, namun bila ada kemauan pasti nantinya akan diberi sebuah jalan yang indah untuk menggapai impian itu. Maka merintislah untuk rakyat.
                        Pesimis akan pengembangan terhadap perdesaan pasti akan muncul, apalagi bagi masyarakat desa itu sendiri. Rasa pesimis seolah selalu menggelayuti setiap langkahnya, pesimis akan sulitnya perubahan, pesimis akan kesejahteraan hidup, dan pesimis terhadap apa yang dapat dilakukannya untuk menjadikan hidup lebih baik dari keadaan saat ini. Namun hal tersebut dapat dihilangkan dengan sebuah keyakinan bahwa perubahan menuju perbaikna itu ada dan itu berada di tangan setiap orang, tergantung dari usaha yang tercurahkannya.
                        Geografi perdesaan adalah salah satu cabang dari ilmu geografi yang mempunyai spesifikasi mengenai pemahaman mengenai perdesaan atau wilayah desa secara menyeluruh. Baik memahami mengenai manusianya, lingkungan tempat tinggalnya, hingga interaksi diantara keduanya. Serta masalah yang muncul dari interaksi tersebut, mulai dari ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Sebuah ilmu yang menjadi rujukan pembangunan sebuah negara, Karena dari desalah sebuah kehidupan masyarakat disebuah negara dimulai. Keberagaman hal yang dicakup dalam ilmu geografi sejalan dengan landasan dasar geografi itu sendiri yang dinyatakan oleh Finch dalam teorinya yakni, “andaikata di permukaan bumi ini tidak ditemukan perbedaan serta keberagaman fenomena fisis, sosial, ekonomi, serta budaya, maka tidak ada landasan dasar eksistensi disiplin sains geografi” (Finch, 1951).
                        Perdesaan merupakan sebuah tempat dimana masyarakatnya sebagian besar memenuhi kebutuhan hidupnya dari kekayaan alam yang ada, dan sebagian besar mata pencahariannya adalah menjadi petani. Hal ini tentu saja sangat berkenaan dengan lahan yang tersedia masih luas. Keberadaannya yang tak bisa lepas dari kegiatan bercocok tanam ini membuat kehadiran manusia di planet bumi ini memberikan penilaian, bahwasannya manusia hidup dengan cara yang disebut food gathering economics, yakni hunting, fishing, dan meramu (Koentjaraningrat, 1967) yang berakibat pada manusia yang mulai menetap pada suatu wilayah.
                        Dengan perkembangannya ini maka munculah sebuah pemikiran mengenai evolusi kehidupan manusia di wilayah desa. Hal ini bermakna penting karena dapat menggambarkan tonggak sejarah awal perkembangan dan kemajuan kehidupan manusia. Karena bermula dari sebuah desa maka terciptalah sebuah tatanan hidup yang lebih maju yakni, kota. Adapun kota yang pertama lahir yakni sekitar empat ribu tahun yang lalu merupakan sebuah perkembangan berkelanjutan dari sebuah desa. Yang pada akhirnya menggelitik pakar perkotaan klasik untuk memberikan konsepsinya mengenai hal tersebut, Lewis Mumford (1938) yang menyatakan bahwa kota merupakan puncak dari sebuah peradaban. Yang mempunyai makna tererat dari pemahaman akan pemikiran seorang Lewis yakni kota merupakan puncak dari kemajuan proses perkembangan sebuah desa.
                        Dalam perkembangannya pun berujung pada sebuah perbedaan yang sangat mencolok diantara keduanya, desa dan kota. Desa dengan segala kekurangan yang ada yang kemudian akan menciptakan sebuah mindset masyarakat bahwa desa adalah bagian kecil dari sebuah wilayah negara, hal tersebut terciptakan karena perkembangan dari desa sendiri yang berkembang pada masa praindustri sehingga menghasilkan sebuah pencitraan bahwa desa itu bersifat statis dan tradisional. Yang dimana semuanya menjadi keterbalikan dari kota sendiri, sistem perkotaan yang berkembang pada masa industrialisasi yang berakibat pada mindset yang tumbuh dalam masyarakat bahwa kota mengalami kemajuan dalam berbagi bidang dengan sangat cepat, bahkan melampaui perkembangan masyarakat desa dalam pelbagai bidang.
                        Di Indonesia sendiri desa masih menjadi mayoritas perwilayahan, namun demikian desa tersebut memiliki karakteristik yang hampir sama antara desa yang satu dengan yang lainnya. Seperti pekerjaan yang digeluti oleh sebagian masyarakatnya yakni bekerja pada sektor pertanian, homogenitas yang masih nampak dalam pelbagai aspek kehidupan, dan yang paling menonjol yakni sifat sosial atau hubungan antar warganya yang masih teramat kental. Yang kesemuanya tidak dimiliki oleh masyarakat kota.
                        Potensi yang dimiliki oleh desa tentunya akan berbeda satu sama lain, dan hal ini pula yang harusnya mampu untuk ditemukan dan digali oleh masyarakatnya sebagai sesuatu yang dapat menjadi keunggulan. Karena saat ini realita yang ada penopang perekonomian nasional adalah sektor industrialisasi. Dimana sebagian besar industri-industri tersebut berada di daerah perkotaan. Memang tidak dipungkiri bahwa mengelola suatu yang sudah muncul dipermukaan akan lebih mudah dibandingkan harus menggali terlebih dahulu. Disini peran pemerintah menjadi sangat vital, karena dengan segala kebijakan yang diambil secara tidak langsung akan berakibat pada berbagai hal yang berkenaan dengan masyarakat luas. Selain itu saat ini kearifan pemerintah menjadi hal yang paling dipertanyakan, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini pemerintah lebih memaksimalkan atau mendorong perkembangan ekonomi pada sektor industri, sedangkan sektor pertanian menjadi sekadar pendamping ataupun pelengkap semata. Dan mungkin karena hal itu pulalah yang kemudian menarik minat masyarakat perdesaan untuk melakukan sebuah urbanisasi demi memperoleh sebuah kesejahteraan hidup. Yang pada dasarnya urbanisasi tidak selamanya akan mampu menampung keinginan masyarakat urban, karena pada titik tertentu sebuah urbanisasi akan mencapai puncaknya, dan setelah itu bahkan hanya persoalan sosial yang akan muncul, dan yang paling populer adalah pemukiman kumuh yang berada didaerah perkotaan yang semakin menambah kepadatan. Sebenarnya hal yang paling arif adalah menjadikan kedua sektor ini, industri dan pertanian, saling bersinambungan satu sama lain. Mungkin hal ini pula yang masih menempatkan negara Indonesia pada tingkatan negara berkembang. Seandainya hal tersebut dapat terwujud mungkin keadaan yang lebih baik dapat diusahakan.
                        Menjadikan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi nasonal bukanlah hal yang tidak mungkin, Vietnam dengan koordinasi yang solid antara pemerintah dan rakyatnya untuk memaksimalkan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi negaranya terbukti dapat mengantarkan negara tersebut sebagai pengekspor beras terbesar mengalahkan Thailand dan Indonesia sendiri. Dan itu hal yang mungkin bagi Indonesia, apalagi didukung dengan tanahnya yang subur dan luas lahan di Indonesia yang terhampar dari Sabang hingga ke ujung timur sana, Merauke. Sebenaranya Indonesia sendiri sudah pernah mencapai titik tertinggi di kawasan Asia Tenggara dengan menjadi lumbung padi, dimana saat itu pemerintah dibawah kekuasaan presiden  Soeharto pada jabatan lima tahun pertamanya, mampu melakukan hal tersebut dengan swasembada berasnya.
                        Menjadikan sektor pertanian sebagai penopang pembangunan ekonomi adalah hal yang patut dicita-citakan oleh bangsa ini, bangsa yang sebagian masyarakatnya berdomisili di desa. Meskipun hal tersebut tidak lantas terjadi begitu saja melainkan butuh proses langkah demi langkah. Karena sesungguhnya sektor pertanian adalah sektor yang menghasilkan bahan pangan yang menjadi kebutuhan primer, sehingga bukanlah kendala yang besar untuk memasarkan hasil dari sektor pertanian itu sendiri. Karena kendala terbesar yang dihadapi oleh petani-petani Indonesia adalah sulitnya memasarkan hasil pertaniannya selain masalah persaingan dengan hasil pertanian hasil impor dari negara tetangga.
                        Kekayaan melimpah yang terdapat di sebuah negara adalah kawasan perdesaan, meskipun wilayah perkotaan juga punya andil namun tak sebesar aset yang dimiliki desa. Di desa sumber daya bisa dikatakan melimpah, mulai dari sumber daya alam hingga sumber daya manusianya. Mungkin alasan ini yang membuat wilayah perdesaan dapat dijadikan salah satu pondasi penopang pembangunan nasional.
                        Beraneka ragam sumber daya yang dimiliki oleh perdesaan apabila mampu untuk dikembangkan secara proporsional maka akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Perdesaan yang masih mempunyai udara yang relatif bersih dan suasananya yang tenang, mampu menjadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang merindukan suasana tersebut setelah bergelut dengan keadaan perkotaan yang penuh dengan kesibukan. Dan apabila hal tersebut dapat terwujud bukan tidak mungkin dengan pemanfaatan wilayah perdesaan yang seperti itu bisa menjadikan penghambat tingginya angka urbanisasi. Karena dengan pemanfaatan terhadap sumber daya manusianya maka akan banyak memberikan peluang masyarakat untuk bekerja. Selain dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, dan hal ini seirama dengan pemikiran yang menyatakan bahwa dengan pariwisata perdesaan dapat menciptakan sebuah atmosfer pembangunan yang berkesinambungan (Oppermann, 1996; Crotts & Holland, 1993).
                        Dan kesemuanaya dapat terlebur menjadi satu dalam sebuah semangat  kebangkitan bangsa. Semangat yang lambat laun mulai luntur oleh sebuah kepentingan golongan atau pribadi. Yang ingin memperkaya diri mereka sendiri, musuh terbesar dalam sebuah kebangkitan bangsa yakni koruptor. Sosok yang membuat kebangkitan bangsa ini semakin tersendat kian lambat, yang tidak hanya memakan semangat tapi merusak tatanan yang tersedia untuk mencapai sebuah perubahan.
                        Dengan menanamkan semangat kebangkitan bangsa dapat dilakukan dengan mengusahakan perwujudan desa untuk pembangunan yang berkelanjutan. Maksud dari hal tersebut ialah menjadikan desa sebagai mortir yang akan selalu ada untuk sebuah pembangunan. Karena dengan demikian maka pembangunan akan terus berjalan setapak demi setapak hingga akhirnya akan mencapai sebuah tujuan bersama. Dan mungkin yang perlu menjadi koreksi bagi para pemimpin kita adalah semangat yang mendasari meraka dalam membangun negara ini. Terkadang mereka lupa dengan tujuan awal dibentuknya republik ini, dan mereka lebih mementingkan kepentingan golongan atau bahkan kepentingan pribadi, yang mana hal tersebut tidak akan membawa pada sebuah perbaikan bangsa.
                        Kemiskinan merupakan keadaan atau kondisi serba kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan dasar bagi anak-anak (Mubyarto dalam Daldjoeni, 1986). Dalam proses membangun sebuah perdesaan agar mampu menjadi penopang pembangunan sama artinya meningkatkan kemampuan rakyat dengan cara mengembangkan dan mendinamisasikan potensinya, dan kedua langkah tersebut adalah hal yang paling sesuai dan merupakan jembatan menuju perubahan Indonesia kearah yang lebih baik. Karena perdesaan punya andil yang cukup besar dalam mengiringi kemajuan bangsa ini. Pembangunan sendiri dapat dilihat dari tiga sisi yakni, menciptakan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang, memperkuat potensi ekonominya lewat peningkatan pendidikan, kesehatan serta terbukanya kesempatan untuk memanfaatkan peluang-peluang ekonomi, mengembangkan ekonomi rakyat dan mencegah terjadinya persaingan yang tak seimbang, serta mencegah eksploitasi golongan ekonomi kuat atas yang lemah (La Ode Muhamad Magribi, 2008). Sebagai penutup, semoga buah pemikiran yang telah dijabarkan dapat memberikan sebuah pemantik untuk tetap berkontribusi menuju sebuah langkah perubahan Indonesia yang lebih baik. Salam Perubahan!
                                               



         Yogyakarta, 7 Mei 2012
                        _G I E_