21
Maret 2011, waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Dimana semua siswa kelas
XII sedang mendapatkan sebuah penjelasan dari Kepsek tercinta, Drs. Akhmad
Khotib, tentang kelulusan dan perkuliahan. Setelah acara usai, siswa diberi
keleluasaan untuk beristirahat.
Wicak : (berjalan keluar dari Aula sekolah dan
menghampiri Abdul)
(menepuk bahu Abdul)
Abdul : (menoleh sesaat, diam, dan acuh)
Wicak :”Ada apa denganmu? Kau aneh, tak seperti
biasanya.”
“Bukankah kita baru saja diberi sebuah
pencerahan tentang jalan masa depan kita.”
Abdul :”Memang benar , tapi entahlah. Aku sendiri
tak tahu dengan keadaanku saat ini, cak.”
Wicak :”Kau sakit?”
Abdul :”Tidak. Aku baik-baik saja. Aku sedang
bingung dengan jalan masa depanku nanti.”
Wicak :”Bukankah penjelasan tadi, setidaknya telah membuka jalan masa
depanmu untuk melanjutkan ke bangku perkuliahan?”
“Dan mencapai titik tertinggi dalam
hidupmu, yakni sebuah kesuksesan.”
Abdul :”Hal itu benar. Namun, seolah batin dan raga ini berontak dengan
apa yang telah dipaparkan.”
“Semua itu seakan tak bisa mengembun
dipikiran dan benak hati ini.”
Wicak :”Kau tak ingin melanjutkan kuliah kah? Lalu mau kemana? Bekerja?
Dan bermodal ijazah SMA?”
Abdul : (tersenyum)
“Kau kenal aku bukan?
Wicak :”Benar. Aku mengenalmu. Aku tahu semua tentangmu. Hidupmu,
mimpimu bahkan silsilah keluargamu pun aku paham.”
Abdul :”Bagus. Itu berarti kau paham apa jalan hidupku dan apa prinsip
hidup yang aku pegang.”
Wicak :”Astaghfirullah!” (heran pada jawaban yang dilontarkan Abdul)
“Kau
benar-benar akan mewujudkan itu, bekerja?”
“Kau
bodoh, kau tak punya otak, dan kau tak punya perasaan. Kau bisa bayangkan,
bagaimana nantinya perasaan orang tuamu?”
“Pikirkan
itu!”
Abdul :”Kau benar, namun bekerja adalah mimpi dan tujuan hidupku.”
“Itu
pun kulakukan demi orang tuaku, ibu, ayah, dan kedua adikku.”
Wicak :”Ayolah...”
“Kau
punya potensi yang besar, kau pintar!”
“Kau
bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang berlabel kedinasan.”
Abdul :”Aku tahu!”
Wicak :”Sekarang kau diam dan lihat aku!” (memegang kedua bahu Abdul)
“Apakah
karena kemiskinan dan takdir-takdir ini? Bukan kawan!”
“Percayalah!”
“Ayahmu
pasti bisa mencukupi kebutuhan keluargamu, selama kau kuliah nanti. Yakinlah,
kita punya Allah tempat memeinta segala sesuatu.”
Abdul :”Hahaha...”
“Kau
masih yakin akan manfaat bangku kuliah untuk mengubah hidup ini?”
Wicak :”Aku yakin, maka dari itu aku ingin mengajakmu untuk bersama-sama
meraih setapak mimpi kita ini.”
“Ayolah!
Kau punya potensi yang luar biasa kawan!”
Abdul :”Baik. Aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi.”
“Terima
kasih kawan, kau telah membuka pikiran ini.”
“Semua
yang kau katakan ada benarnya.”
“Tujuan
hidup memang satu, namun ada beribu jalan mencapainya.”
Wicak :”Sama-sama kawan.” (memeluk sahabatnya)
sumber: Naskah Ujian Praktik Bahasa Indonesia
sumber: Naskah Ujian Praktik Bahasa Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar