Rabu, 07 Maret 2012

Setapak mimpi



         21 Maret 2011, waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Dimana semua siswa kelas XII sedang mendapatkan sebuah penjelasan dari Kepsek tercinta, Drs. Akhmad Khotib, tentang kelulusan dan perkuliahan. Setelah acara usai, siswa diberi keleluasaan untuk beristirahat.

Wicak   : (berjalan keluar dari Aula sekolah dan menghampiri Abdul)
              (menepuk bahu Abdul)
Abdul    : (menoleh sesaat, diam, dan acuh)
Wicak   :”Ada apa denganmu? Kau aneh, tak seperti biasanya.”
             “Bukankah kita baru saja diberi sebuah pencerahan tentang jalan masa depan kita.”
Abdul    :”Memang benar , tapi entahlah. Aku sendiri tak tahu dengan keadaanku saat ini, cak.”
Wicak   :”Kau sakit?”
Abdul    :”Tidak. Aku baik-baik saja. Aku sedang bingung dengan jalan masa depanku nanti.”
Wicak   :”Bukankah penjelasan tadi, setidaknya telah membuka jalan masa depanmu untuk melanjutkan ke bangku perkuliahan?”
“Dan mencapai titik tertinggi dalam hidupmu, yakni sebuah kesuksesan.”
Abdul    :”Hal itu benar. Namun, seolah batin dan raga ini berontak dengan apa yang telah dipaparkan.”
“Semua itu seakan tak bisa mengembun dipikiran dan benak hati ini.”
Wicak   :”Kau tak ingin melanjutkan kuliah kah? Lalu mau kemana? Bekerja? Dan bermodal ijazah SMA?”
Abdul    : (tersenyum)
“Kau kenal aku bukan?
Wicak   :”Benar. Aku mengenalmu. Aku tahu semua tentangmu. Hidupmu, mimpimu bahkan silsilah keluargamu pun aku paham.”
Abdul    :”Bagus. Itu berarti kau paham apa jalan hidupku dan apa prinsip hidup yang aku pegang.”
Wicak   :”Astaghfirullah!” (heran pada jawaban yang dilontarkan Abdul)
            “Kau benar-benar akan mewujudkan itu, bekerja?”
            “Kau bodoh, kau tak punya otak, dan kau tak punya perasaan. Kau bisa bayangkan, bagaimana nantinya perasaan orang tuamu?”
            “Pikirkan itu!”
Abdul    :”Kau benar, namun bekerja adalah mimpi dan tujuan hidupku.”
            “Itu pun kulakukan demi orang tuaku, ibu, ayah, dan kedua adikku.”
Wicak   :”Ayolah...”
            “Kau punya potensi yang besar, kau pintar!”
            “Kau bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang berlabel kedinasan.”
Abdul    :”Aku tahu!”
Wicak   :”Sekarang kau diam dan lihat aku!” (memegang kedua bahu Abdul)
            “Apakah karena kemiskinan dan takdir-takdir ini? Bukan kawan!”
            “Percayalah!”
            “Ayahmu pasti bisa mencukupi kebutuhan keluargamu, selama kau kuliah nanti. Yakinlah, kita punya Allah tempat memeinta segala sesuatu.”
Abdul    :”Hahaha...”
            “Kau masih yakin akan manfaat bangku kuliah untuk mengubah hidup ini?”
Wicak   :”Aku yakin, maka dari itu aku ingin mengajakmu untuk bersama-sama meraih setapak mimpi kita ini.”
            “Ayolah! Kau punya potensi yang luar biasa kawan!”
Abdul    :”Baik. Aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi.”
            “Terima kasih kawan, kau telah membuka pikiran ini.”
            “Semua yang kau katakan ada benarnya.”
            “Tujuan hidup memang satu, namun ada beribu jalan mencapainya.”
Wicak   :”Sama-sama kawan.” (memeluk sahabatnya)


sumber: Naskah Ujian Praktik Bahasa Indonesia




Tidak ada komentar:

Posting Komentar