Tan
Malaka. Sesosok manusia yang terlahir dari sebuah daerah di pulau Sumatera,
tepatnya di Sumatera bagian Barat dengan keadaan keluarganya yang miskin dan
serba kekurangan. Mungkin hal itu pula yang secara tidak langsung memantik
dirinya untuk bergerak dan mulai mengadakan sebuah perubahan. Dan hal itu
benar-benar ia lakukan dengan menghampiri sebuah negara penjajah jiwa dan raga
bangsa ini, Belanda. Dan tepatnya langkah-langkah perubahan beliau lakaukan
sejak usianya 16 tahun, masa dimana terjadi pergolakan batin atau perubahan
transisi pribadi seseorang. Namun sosok yang satu ini malah sudah memulainya
dengan pergolakan untuk menjadikan hal itu sebagai langkah awal mewujudkan
cita-citanya, realisasi sebuah perubahan bangsa Indonesia. Hal yang mungkin
hingga saat ini juga masih menjadi mimpi setiap pemuda Indonesia untuk
mewujudkan ndonesia yang lebih baik, meskipun kemerdekaan bangsa ini sudah kita
genggam walau tak seutuhnya.
Hingga
pada usia 22 tahun, akhirnya beliau kembali dan mengabdikan dirinya menjadi
seorang guru. Lama berkutat sebagai guru yang tentu jalannya tak semulus guru
saat ini, dimana beliau selalu mendapat hadangan dari Belanda dalam proses
pencerdasan tumpuan negeri ini di masa mendatang. Dan pada akhirnya beliau
benar-benar menginjakan kaki langkahnya pada ranah politik, dengan harapan
semakin mendekatkan dirinya dengan mimpinya itu. Dalam berpolitik dimasa
penjajahan tidaklah mudah dan sebebas saat ini, penuh dengan tekanan dan
pembuangan ke berbagai daerah terpencil apabila berani melangkah terlalu jauh
melampaui langkah dari pemerintah Belanda. Banyak daerah yang sudah pernah
beliau rasakan dalam masa pembuangannya mulai dari dalam hingga luar negeri,
Kupang, Berlin, dan Moskow.
Hatinya
pun semakin mengeras dan langkahnya semakin pasti, semangat radikal pun membara
didalam diri seorang Tan Malaka. Karena rasa prihatinnya melihat keadaan sekitar
yang tak kunjung berubah menjadi lebih baik. Sebuah pemikiran yang luar biasa
akhirnya keluar, dimana pada masa itu belum ada satu pun tokoh yang memikirkan
tentang apa yang dipikirkan olehnya, Menuju Republik Indonesia. Pemikiran yang
tentunya syarat akan makna perubahan. Dan akhirnya pemikiran beliau pun
menggugah hati para
pemuda pada masa 1925-an untuk mewujudkan
konsepsi yang telah dibuat dan diatur sedemikian rupa itu. Dan dari sinilah
awal langkah besar perubahan itu semua.
Dalam
buah pemikiran beliau ada satu hal yang sangat mengesankan, dimana beliau menggambarkan
bangsa yang besar ini sebagai seekor burung gelatik, burung yang menjadi musuh
bagi para petani, burung kecil yang selalu beterbangan diatas areal persawahan.
Mengapa harus burung gelatik? Hal ini dikarenakan burung kecil ini pada
dasarnya adalah burung yang sebenarnya tak punya tempat yang aman untuk
mempertahankan dirinya dari serangan para predator. Apabila ia berada di dahan
yang rendah maka ular atau kucinglah yang siap menerkamnya, begitu pula bila ia
berada di dahan yang tinggi sekalipun, karena akan tetap ada predator yang juga
sama akan memangsanya, yakni burung elang. Gambaran tersebut mengisahkan betapa
kemerdekaan untuk hidup itu sulit dan itu haruslah diperjuangkan. Begitu pula
yang terjadi pada negeri ini, Indonesia. Negeri yang dalam angan seorang Tan
Malaka merupakan negeri yang akan selalu terancam dan dihantui perasaan takut.
Negeri yang sangat mahal harga kemerdekaanya. Alasan tersebut memang benar
adanya, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya Indonesia ini punya
potensi sumber daya yang sangat melimpah dan letaknya pun sangat strategis,
jadi tak salah bila banyak yang mengidamkan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia ini. Angan Tan Malaka pun sederhana, memimpikan Indonesia yang
terbebas dari belenggu dan teror para pemangsa.
Namun
masih ada jalan keluar dari belenggu para pemangsa, yakni apabila
gelatik-gelatik itu terbang dan bergerombol. Maka mereka akan terbebas dari
para pemangsa ataupun predator dan bahkan habislah tanaman padi para petani
yang telah merawatnya pagi dan malam hari dalam sekejap. Itulah hal yang paling
diinginkan dari seorang Tan Malaka. Prinsip Indonesia Merdeka, Indonesia yang
terbebas dari belenggu berbagai pihak dengan berbagai kepentingan namun juga
tidak mengintimidasi negara lain.
Setelah
kemerdekaan bangsa ini tergapai maka tugas beratpun mulai dibebankan oleh para
pendiri negeri ini. Dan revolusi adalah hal yang paling ideal untuk
dilaksanakan, itulah buah pemikiran lain seorang Tan Malaka. Manusia yang tak
pernah berhenti berkonsepsi demi terwujudnya Republik Indonesia. Bahkan dengan
lantang beliau meneriakkan bahwasanya negeri yang merdeka adalah negeri yang
punya konsep, dan itu harus dimiliki oleh Indonesia. Beliau sendiri berkonsepsi
sebuah negeri yang ideal, negeri yang bebas, negeri yang kemakmuranya hanya dan
untuk rakyatnya sendiri. Beliau memimpikan Indonesia bukan sebagai negara yang
berparlemen melainkan negeri yang diatur atau dipimpin oleh sebuah organisasi.
Bukan sebuah parlemen yang kemudian terbagi dalam tiga kasta besar yakni
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena dengan demikian negeri yang
berparlemen maka akan muncul sebuah dinding pemisah diantara ketiganya. Karena
tiap elemen punya fungsi dan kebijakannya masing-masing. Sedangkan negeri yang
diatur oleh sebuah organisasi layaknya, Muhammadiyah dan Nahdattul Ullama,
lebih akan terorganisir dari bawah hingga atas, sehingga tidak akan menimbulkan
banyak polemik dan dinding pembatas nantinya. Pada saat itu banyak sekali
kritik yang masuk mengenai konsep negera Tan Malaka. Dan puncak keinginan pada
perubahan yang beliau usung yakni ingin menjatuhkan Soekarno, presiden yang
dianggapnya sudah tak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Namun masa itu
bukanlah masa Tan Malaka, saat itu sosok Bung Karno berpengaruh besar dibanding
dirinya, meskipun sejatinya Tan Malaka adalah sosok konseptor yang luar biasa
dalam menuntut sebuah revolusi perbaikan. Hal itupun kandas begitu saja karena
ketidakberdayaanya. Dan hingga akhirnya sosok pahlawan itu tewas ditembus timah
panas di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur pada 1949. Itulah Tan Malaka, pahlawan
revolusi yang terlupakan oleh kebanyakan rakyat Indonesia...
Yogyakarta, 29 April 2012
_ G I E _

