Minggu, 29 April 2012

Revolusioner yang Terlupakan

                         Tan Malaka. Sesosok manusia yang terlahir dari sebuah daerah di pulau Sumatera, tepatnya di Sumatera bagian Barat dengan keadaan keluarganya yang miskin dan serba kekurangan. Mungkin hal itu pula yang secara tidak langsung memantik dirinya untuk bergerak dan mulai mengadakan sebuah perubahan. Dan hal itu benar-benar ia lakukan dengan menghampiri sebuah negara penjajah jiwa dan raga bangsa ini, Belanda. Dan tepatnya langkah-langkah perubahan beliau lakaukan sejak usianya 16 tahun, masa dimana terjadi pergolakan batin atau perubahan transisi pribadi seseorang. Namun sosok yang satu ini malah sudah memulainya dengan pergolakan untuk menjadikan hal itu sebagai langkah awal mewujudkan cita-citanya, realisasi sebuah perubahan bangsa Indonesia. Hal yang mungkin hingga saat ini juga masih menjadi mimpi setiap pemuda Indonesia untuk mewujudkan ndonesia yang lebih baik, meskipun kemerdekaan bangsa ini sudah kita genggam walau tak seutuhnya.
                        Hingga pada usia 22 tahun, akhirnya beliau kembali dan mengabdikan dirinya menjadi seorang guru. Lama berkutat sebagai guru yang tentu jalannya tak semulus guru saat ini, dimana beliau selalu mendapat hadangan dari Belanda dalam proses pencerdasan tumpuan negeri ini di masa mendatang. Dan pada akhirnya beliau benar-benar menginjakan kaki langkahnya pada ranah politik, dengan harapan semakin mendekatkan dirinya dengan mimpinya itu. Dalam berpolitik dimasa penjajahan tidaklah mudah dan sebebas saat ini, penuh dengan tekanan dan pembuangan ke berbagai daerah terpencil apabila berani melangkah terlalu jauh melampaui langkah dari pemerintah Belanda. Banyak daerah yang sudah pernah beliau rasakan dalam masa pembuangannya mulai dari dalam hingga luar negeri, Kupang, Berlin, dan Moskow.
                        Hatinya pun semakin mengeras dan langkahnya semakin pasti, semangat radikal pun membara didalam diri seorang Tan Malaka. Karena rasa prihatinnya melihat keadaan sekitar yang tak kunjung berubah menjadi lebih baik. Sebuah pemikiran yang luar biasa akhirnya keluar, dimana pada masa itu belum ada satu pun tokoh yang memikirkan tentang apa yang dipikirkan olehnya, Menuju Republik Indonesia. Pemikiran yang tentunya syarat akan makna perubahan. Dan akhirnya pemikiran beliau pun menggugah hati para
pemuda pada masa 1925-an untuk mewujudkan konsepsi yang telah dibuat dan diatur sedemikian rupa itu. Dan dari sinilah awal langkah besar perubahan itu semua.
                        Dalam buah pemikiran beliau ada satu hal yang sangat mengesankan, dimana beliau menggambarkan bangsa yang besar ini sebagai seekor burung gelatik, burung yang menjadi musuh bagi para petani, burung kecil yang selalu beterbangan diatas areal persawahan. Mengapa harus burung gelatik? Hal ini dikarenakan burung kecil ini pada dasarnya adalah burung yang sebenarnya tak punya tempat yang aman untuk mempertahankan dirinya dari serangan para predator. Apabila ia berada di dahan yang rendah maka ular atau kucinglah yang siap menerkamnya, begitu pula bila ia berada di dahan yang tinggi sekalipun, karena akan tetap ada predator yang juga sama akan memangsanya, yakni burung elang. Gambaran tersebut mengisahkan betapa kemerdekaan untuk hidup itu sulit dan itu haruslah diperjuangkan. Begitu pula yang terjadi pada negeri ini, Indonesia. Negeri yang dalam angan seorang Tan Malaka merupakan negeri yang akan selalu terancam dan dihantui perasaan takut. Negeri yang sangat mahal harga kemerdekaanya. Alasan tersebut memang benar adanya, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya Indonesia ini punya potensi sumber daya yang sangat melimpah dan letaknya pun sangat strategis, jadi tak salah bila banyak yang mengidamkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Angan Tan Malaka pun sederhana, memimpikan Indonesia yang terbebas dari belenggu dan teror para pemangsa.
                        Namun masih ada jalan keluar dari belenggu para pemangsa, yakni apabila gelatik-gelatik itu terbang dan bergerombol. Maka mereka akan terbebas dari para pemangsa ataupun predator dan bahkan habislah tanaman padi para petani yang telah merawatnya pagi dan malam hari dalam sekejap. Itulah hal yang paling diinginkan dari seorang Tan Malaka. Prinsip Indonesia Merdeka, Indonesia yang terbebas dari belenggu berbagai pihak dengan berbagai kepentingan namun juga tidak mengintimidasi negara lain.
                        Setelah kemerdekaan bangsa ini tergapai maka tugas beratpun mulai dibebankan oleh para pendiri negeri ini. Dan revolusi adalah hal yang paling ideal untuk dilaksanakan, itulah buah pemikiran lain seorang Tan Malaka. Manusia yang tak pernah berhenti berkonsepsi demi terwujudnya Republik Indonesia. Bahkan dengan lantang beliau meneriakkan bahwasanya negeri yang merdeka adalah negeri yang punya konsep, dan itu harus dimiliki oleh Indonesia. Beliau sendiri berkonsepsi sebuah negeri yang ideal, negeri yang bebas, negeri yang kemakmuranya hanya dan untuk rakyatnya sendiri. Beliau memimpikan Indonesia bukan sebagai negara yang berparlemen melainkan negeri yang diatur atau dipimpin oleh sebuah organisasi. Bukan sebuah parlemen yang kemudian terbagi dalam tiga kasta besar yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena dengan demikian negeri yang berparlemen maka akan muncul sebuah dinding pemisah diantara ketiganya. Karena tiap elemen punya fungsi dan kebijakannya masing-masing. Sedangkan negeri yang diatur oleh sebuah organisasi layaknya, Muhammadiyah dan Nahdattul Ullama, lebih akan terorganisir dari bawah hingga atas, sehingga tidak akan menimbulkan banyak polemik dan dinding pembatas nantinya. Pada saat itu banyak sekali kritik yang masuk mengenai konsep negera Tan Malaka. Dan puncak keinginan pada perubahan yang beliau usung yakni ingin menjatuhkan Soekarno, presiden yang dianggapnya sudah tak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Namun masa itu bukanlah masa Tan Malaka, saat itu sosok Bung Karno berpengaruh besar dibanding dirinya, meskipun sejatinya Tan Malaka adalah sosok konseptor yang luar biasa dalam menuntut sebuah revolusi perbaikan. Hal itupun kandas begitu saja karena ketidakberdayaanya. Dan hingga akhirnya sosok pahlawan itu tewas ditembus timah panas di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur pada 1949. Itulah Tan Malaka, pahlawan revolusi yang terlupakan oleh kebanyakan rakyat Indonesia...


             Yogyakarta, 29 April 2012 
                           _ G I E _

Jumat, 20 April 2012

Zionisme Menggurita, Apakah Kita Akan Diam Saja?


I
nspirasi untuk menulis tentang hal ini sebenarnya datang begitu saja secara sederhana. Tapi jujur saya sendiri masih mempelajari hal ini dan tujuannya pun sederhana pula untuk sekadar tahu. Namun tahu disini bukan berarti, kita tahu dan itu selesai sampai titik itu saja, namun akan lebih mengacu pada sebuah pemahaman sederhana buah pemikiran mahasiswa, yang bisa dikenal sebagai kaum intelektual. Namun saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagi kaum samudera pemikiran, kaum muda denga ribuan gagasan yang tak terbatas.
            Alasan mengangkat topik Zionisme Menggurita sendiri dikarenakan, meskipun hal ini memang kurang popular dikalangan mahasiswa, dibanding dengan topik membangun bangsa kearah yang lebih baik atau apalah yang intinya tentang nasionalisme kaum muda, yang memimpikan Indonesia kearah yang lebih baik. Saya sendiri tak paradoks akan hal itu, jujur itu memang tugas kita sebagai kaum muda. Tapi apa salahnya kita setidaknya juga memahami permasalahan internasional terutama yang menyangkut masalah keberagamaan. Zionisme sendiri punya makna yang luas, namun dalam pandangan saya hal itu berarti sebuah pandangan politik yang dipakai kaum Yahudi untuk mendirikan negara sendiri diatas wilayah negara Palestina. Sedangkan gurita adalah simbolisasi binatang yang punya sejenis alat penggerak, tentakel yang panjang dalam jumlah lebih dari satu. Yang berarti masalah Zionisme atau paham ini mulai meracuni dunia demi sebuah kepentingan kaum semata dengan cara menindas kaum lain, khusunya kaum muslim.
            Semakin berkembangnya peradaban zaman saat ini, secara perlahan juga mengikis kekuatan kaum muslim sendiri. Pada tahun 1970-an hampir semua kaum muslim ikut menanggung masalah yang melanda saudara kita di Palestina sana. Lalu 1980-an, tinggal masyarakat jazirah Arab saja yang menanggungnya. Kemudian 1990-an, tinggal masyarakat Palestina sendirilah yang menanggungnya hingga masuk pada tahun 2000-an sekarang ini tinggal Hamas dan Al- Fattah saja. Padahal di Palestina sana ada sebuah tempat bersejarah dimana Nabi Muhammad menerima wahyu shalat secara langsung dalam peristiwa ‘Isra, yakni Masjidil ‘Aqsa. Mencengangkan memang namun inilah realita yang ada saat ini.
            Dan hal yang paling penting yang membuat kita harus peduli adalah cara mereka (Israel), yang mematikan intelektualitas masyarakat Palestina terutama generasi penerusnya, kaum muda. Disini kita dengan bebasnya mempelajari berbagai ilmu yang ada dari sains hingga sosial. Dan seharusnya kita memanfaatkan hal ini untuk mempertajam keintelektualan pemikiran-pemikiran kita ini. Dan bayangkan, di Palestina sana sangat sulit untuk mendapatkan hal seperti apa yang kita dapatkan saat ini. Mereka harus berjuang untuk kebebasan bangsanya dan sekaligus juga kebebasan intelektualitas mereka. Awalnya sebuah sekolah darurat yang dibangun untuk menampung gelegak semangat pemuda Palestina untuk belajar, lambat laun sekolah itu sepi senyap. Dan apa yang terjadi? bangku yang tadinya di duduki oleh pemuda, kini ditinggalkan hanya dengan sebuah coretan pena saja, ”Syahid”. Yang maknanya mereka telah gugur dalam keadaan syahid karena memperjuangkan kebebasan negaranya dari sebuah zionisme terkejam pegangan Israel, sekaligus membela agama mereka, Islam. Dan ini bukan sekadar pemanis tulisan saja, namun hal ini realita dan benar-benar terjadi di negeri dimana Masjidil ‘Aqsa berada, Palestina.


   Yogyakarta, 21 April 2012
               _G I E_

Sabtu, 14 April 2012

Jalan Cinta Aktivis

           “Sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya”, sebuah petikan kalimat yang muncul dari sebuah pemikiran sederhana seorang Hasan al-Bana yang kemudian mampu untuk menggubah jiwa muda yang haus akan perubahan. Pembuka sebuah coretan tangan yang mencoba memahami makna kiprah yang ada dalam sosok mahasiswa, sekaligus sedikit penggambaran tentang peran, pribadi, karakter, hingga berakhir pada jalan cinta yang dipilih sebagai langkah awal dalam berkiprah untuk menjadi sosok yang mampu dan mau berkontribusi bagi orang lain dan teruntuk rakyat tanah ibu pertiwi ini.
            Coretan ini akan dimulai dengan penggambaran peran dalam kiprahnya sebagai mahasiswa. Secara umum mahasiswa hanyalah kaum intelektual yang beruntung dari ratusan juta pemuda yang ada di negeri ini, yang kemudian tergabungkan dalam sebuah wadah, tempat menempa ilmu dan batu loncatan untuk meraih mimpi, yang kemudian dikenal dengan Perguruan Tinggi atau Universitas. Namun itu tak dapat menggambarkan mahasiswa secara keseluruhan, karena selain berperan sebagai mahasiswa dilain sisi juga mereka dituntut sebagai kaum yang berada dan berdiri sejajar dengan rakyat, penyampai aspirasi yang diharapkan mampu berdiri di garda terdepan. Ada tiga hal yang menjadi peranan bagi mahasiswa yakni agen perubahan (agent of change), kekuatan moral (moral force), dan yang terakhir adalah cadangan keras (iron stock).
            Namun dari ketiga peranan tersebut, saya lebih suka memaknainya dalam sebuah istilah yang dapat meleburkan ketiga peranan tersebut yakni pembuat perubahan. Sosok yang bisa dikatakan lebih dari sekadar agen melainkan menjadikannya sosok kreator perubahan, karena pada dasarnya agen hanyalah sosok yang berperan sebagai perantara belaka, sedangkan kreator sendiri lebih kepada pencipta atau pencutusnya, yang dalam bahasa kesehariannya lebih  dikenal dengan creator of change. Mahasiswa seperti inilah yang sangat diidamkan, namun sayangnya hanya segelintir mahasiswa yang memaknai dan mau memposisikan dirinya dalam peranan tersebut, miris memang tapi beginilah yang ada di keadaan yang sebenarnya. Peran strategis inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum elit, kaum intelektual, dan kaum samudra pemikiran, peranan yang dapat memposisikan  pada takaran dimana dia mampu membawa dirinya kepada sebuah perubahan. Hal terkecil yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sebagai kreator perubahan yaitu diawali dengan pembuktian dalam mengatasi tantangan sebagai seorang aktivis. Seperti yang kita pahami bersama bahwasanya seorang aktivis adalah orang yang mampu mengampu sesuatu yang bukan menjadi bidangnya. Hal itu dapat digambarkan dengan indeks nilai seorang aktivis yang tetap berada pada posisi terbaik, karena dengan hal tersebutlah kita dapat membuktikan bahwa menjadi seorang yang aktif bukan pada bidangnya, tidak akan mengganggu aktivitas kita sebagai seorang mahasiswa dan hal itu akan mengubah paradigma para kawan kita yang mungkin punya cara pandang yang berbeda tentang sosok mahasiswa yang berperan sebagai aktivis kampus.
            Kemudian kita akan berlari untuk mengenal lebih mendalam mengenai sifat yang melekat pada pribadi seorang mahasiswa. Dan pertanyaan awal yang akan mencuat yakni, pribadi yang seperti apakah yang dapat mencirikannya sebagai pribadi seorang aktivis mahasiswa?  Jika pertanyaan tersebut dijabarkan dengan rinci mungkin itu akan sangat luas pemahamannya. Namun disini saya akan membahasnya secara sederhana, kepribadian yang mencirikan seseorang sebagai seorang mahasiswa ialah pribadi yang dapat bermanfaat bagi orang lain bahkan lingkungan sekitarnya. Karena dimensi kepribadian itu sendiri mencakup dua hal, yakni ke dalam dan ke luar. Dimana keduanya sangat penting dan saling bersinergi. Dan dari kedua hal tersebut akan menciptakan sebuah kepribadian teladan yang akan lebih mengerucut lagi pada penghasilan sebuah figur, kepribadian yang dapat dijadikan anutan bagi orang lain yang akan membawanya pada keadaan yang semakin baik dari keadaan awal. Figur itu sendiri tak lepas dari berbagai hal yang kita lakukan dalam kegiatan keseharian kita. Bila kesemuanya dibawa pada ranah organisasi maka disini sosok figur kepribadian itu sangat diperlukan sebagai sutradara, yang akan menahkodai sebuah pertunjukan besar, karena belum tentu semua aktor yang berperan dalam pertunjukan ini sudah memahami bahwasanya mereka sedang ditunggu oleh khalayak luas agar mampu menampilkan sebuah pertunjukan besar. Disinilah figur kepribadian teladan seseorang dijadikan pijakan oleh anggota lain untuk mencapai sebuah tujuan besar yang telah dirumuskan bersama.
            Setelah berlari sebelumnya, maka untuk selanjutnya kita akan sedikit menyelami lautan karakter mahasiswa dalam bahasan kali ini. Karaketer seorang mahasiswa itu sendiri akan  terus  berkembang   seiring   jalannya   waktu dan dari berbagai proses pembelajaran. Tempat  dari  proses  pembentukan    karakter     mahasiswa    adalah    kampus.                                                Tempat   kesehariannya bertemu dan berinteraksi dengan oranglain, yang tiap masing-masing orang punya karakter yang mencirikan dirinya dan membedakannya dengan orang lain. Dan karakter dari seorang mahasiswa adalah karakter dengan semangat kontribusi. Dari kebanyakan orang mungkin masih berpikiran bahwa dirinya akan mampu berkontribusi manakala dirinya sudah mampu untuk mencukupi berbagai kebutuhan hidupnya lalu baru ia mampu berkontribusi. Sebenarnya kita yang beruntung bisa menjadi mahasiswa, punya pandangan yang lebih luas lagi tentang hal itu, karena saat ini kita bahkan dapat berkontribusi dalam berbagai lini. Dan itu tidak perlu dilakukan dengan hal-hal yang terwujud dalam sesuatu yang massive, karena dari banyak lini yang ada dalam kehidupan kampus dapat dijadikan sebuah ruang untuk menciptakan karakter kita yang kemudian dapat berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar untuk menunjang kemajuan bangsa ini nantinya. Karena bangsa ini masih menanti jiwa yang punya karakter kontribusi, dan itu ada didalam jiwa seorang pemuda.
            Dari kesemuanya yang ada dalam diri mahasiswa, tertatih dalam langkah setapak melewati sebuah jalan. Dan jalan ini sangat berbeda dari jalan-jalan yang ada, karena jalan ini ditapaki oleh orang yang mau meluangkan waktu, memberikan gagasan, dan mencurahkan tenaganya untuk ikut berkontribusi bersama. Dan jalan itu adalah jalan cinta, sebuah jalan yang hanya mengharap ridho-Nya dan langkah awal untuk merintis sebuah perubahan yang lebih baik. Jalan yang telah mempertemukan kita dalam sebuah wadah organisasi dan persaudaraan ini, yang akan terus mengenang hingga kelak kita dapat benar-benar merealisasikan perubahan besar itu untuk negeri tercinta ini, Indonesia.
            Jalan ini terasa semakin terjal dan membatu ketika banyak orang yang beranggapan bahwa jalan yang kita pilih ini adalah jalan yang hanya dijadikan jembatan untuk sekedar mengisi kekosongan waktu dan hanya untuk mencari kesibukan serta lebih kepada pencarian popularitas semata. Tapi entahlah apa kata mereka, saya akan tetap berjalan karena sampai saat ini saya merasa bahwa inilah jalan yang sangat indah, jalan yang dimana kita tak mengharap banyak pada sebuah pengakuan, tapi ini lebih kepada jalan kecil atau titian untuk menuju sebuah langkah besar untuk mewujudkan apa itu yang dinamakan perubahan, hal yang selalu digadang-gadangkan oleh banyak orang dan saya pikir inilah awal langkahnya, melalui jalan cinta. Yia jalan cinta, jalan yang menjadi realisasi dari kiprah mahasiswa yang sebenarnya!



Yogyakarta, 15 April 2012
              _G I E_

Rabu, 11 April 2012

Merah itu...



            The Red Riding Hood: Gadis Berkerudung Merah. Pastilah sudah dapat dipahami maknanya. Sederhana saja, sosok wanita yang mengenakan penutup kepala, namun dalam makna yang spesifik yakni lebih mengerucut pada kerudung (salah satu penutup aurat bagi wanita) berwarna merah. Merah terkadang terlihat lebih menyolok bila dikenakan diwaktu siang hari yang panas oleh terik matahari yang sudah hampir mencapai ubun kepala manusia. Tapi entah hal apa yang membuat paradigma itu seolah tak berarti, warna merah itu seolah menyatu dengan pemakainya dan semakin menguatkan aura yang terpancar dari dalam dirinya. Wanita berkerudung merah, sosok yang telah memikat perhatian yang sekilas itu tapi syarat akan makna.
            Siang itu seolah panas terik tak begitu menyengat kulit, pandangan ini seolah tak mau beranjak dari warna merah itu, terlalu sulit untuk dielakan bahkan untuk diacuhkan sekalipun. Bukan mau puitis atau apa itulah namanya, tapi kali ini benar adanya. Kekaguman yang menajubkan! Sungguh Allah memang Maha Besar dengan segala keindahannya... Bingkai hitam tak utuh menempel dikedua matanya yang hitam. Rona wajahnya pun seolah telah diciptakan-Nya dengan segala tekstur dan warna yang sempurna. Allah memang benar mencintai segala hal yang indah, slah satunya adalah makhluk yang telah diciptakn-Nya ini.
            Atau mungkinkah ini hanya oase di tengah terik sang surya, bahkan mungkin mata ini yang tak lagi mampu mencengkram spektrum cahaya. Tapi entahlah, peduli atau tidak menikmati sesuatu yang memikat hati pastilah memberikan kenyamanan tersendiri. Semakin memandanginya warna merah itu pun seakan menghambur dalam pandangan, inikah yang dinamakan oase ditengah terik itu?

Mungkinkah merah itu seperti sebuah tekad berani yang tercermin pada pusaka bangsa ini, 


 Sang Pusaka Merah-Putih


  atau mungkin sebuah perlambangan merah pada klub ternama dari negeri Ratu Elizabeth,
 Gerrard - Liverpool (the REDS)


namun semoga hamburan merah itu seperti apa yang telah muncul dan memberikan ketenangan serta mempunyai tempat tersendiri di hati..
 The Red Riding Hood