Jumat, 20 April 2012

Zionisme Menggurita, Apakah Kita Akan Diam Saja?


I
nspirasi untuk menulis tentang hal ini sebenarnya datang begitu saja secara sederhana. Tapi jujur saya sendiri masih mempelajari hal ini dan tujuannya pun sederhana pula untuk sekadar tahu. Namun tahu disini bukan berarti, kita tahu dan itu selesai sampai titik itu saja, namun akan lebih mengacu pada sebuah pemahaman sederhana buah pemikiran mahasiswa, yang bisa dikenal sebagai kaum intelektual. Namun saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagi kaum samudera pemikiran, kaum muda denga ribuan gagasan yang tak terbatas.
            Alasan mengangkat topik Zionisme Menggurita sendiri dikarenakan, meskipun hal ini memang kurang popular dikalangan mahasiswa, dibanding dengan topik membangun bangsa kearah yang lebih baik atau apalah yang intinya tentang nasionalisme kaum muda, yang memimpikan Indonesia kearah yang lebih baik. Saya sendiri tak paradoks akan hal itu, jujur itu memang tugas kita sebagai kaum muda. Tapi apa salahnya kita setidaknya juga memahami permasalahan internasional terutama yang menyangkut masalah keberagamaan. Zionisme sendiri punya makna yang luas, namun dalam pandangan saya hal itu berarti sebuah pandangan politik yang dipakai kaum Yahudi untuk mendirikan negara sendiri diatas wilayah negara Palestina. Sedangkan gurita adalah simbolisasi binatang yang punya sejenis alat penggerak, tentakel yang panjang dalam jumlah lebih dari satu. Yang berarti masalah Zionisme atau paham ini mulai meracuni dunia demi sebuah kepentingan kaum semata dengan cara menindas kaum lain, khusunya kaum muslim.
            Semakin berkembangnya peradaban zaman saat ini, secara perlahan juga mengikis kekuatan kaum muslim sendiri. Pada tahun 1970-an hampir semua kaum muslim ikut menanggung masalah yang melanda saudara kita di Palestina sana. Lalu 1980-an, tinggal masyarakat jazirah Arab saja yang menanggungnya. Kemudian 1990-an, tinggal masyarakat Palestina sendirilah yang menanggungnya hingga masuk pada tahun 2000-an sekarang ini tinggal Hamas dan Al- Fattah saja. Padahal di Palestina sana ada sebuah tempat bersejarah dimana Nabi Muhammad menerima wahyu shalat secara langsung dalam peristiwa ‘Isra, yakni Masjidil ‘Aqsa. Mencengangkan memang namun inilah realita yang ada saat ini.
            Dan hal yang paling penting yang membuat kita harus peduli adalah cara mereka (Israel), yang mematikan intelektualitas masyarakat Palestina terutama generasi penerusnya, kaum muda. Disini kita dengan bebasnya mempelajari berbagai ilmu yang ada dari sains hingga sosial. Dan seharusnya kita memanfaatkan hal ini untuk mempertajam keintelektualan pemikiran-pemikiran kita ini. Dan bayangkan, di Palestina sana sangat sulit untuk mendapatkan hal seperti apa yang kita dapatkan saat ini. Mereka harus berjuang untuk kebebasan bangsanya dan sekaligus juga kebebasan intelektualitas mereka. Awalnya sebuah sekolah darurat yang dibangun untuk menampung gelegak semangat pemuda Palestina untuk belajar, lambat laun sekolah itu sepi senyap. Dan apa yang terjadi? bangku yang tadinya di duduki oleh pemuda, kini ditinggalkan hanya dengan sebuah coretan pena saja, ”Syahid”. Yang maknanya mereka telah gugur dalam keadaan syahid karena memperjuangkan kebebasan negaranya dari sebuah zionisme terkejam pegangan Israel, sekaligus membela agama mereka, Islam. Dan ini bukan sekadar pemanis tulisan saja, namun hal ini realita dan benar-benar terjadi di negeri dimana Masjidil ‘Aqsa berada, Palestina.


   Yogyakarta, 21 April 2012
               _G I E_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar