I
|
nspirasi
untuk menulis tentang hal ini sebenarnya datang begitu saja secara sederhana.
Tapi jujur saya sendiri masih mempelajari hal ini dan tujuannya pun sederhana pula
untuk sekadar tahu. Namun tahu disini bukan berarti, kita tahu dan itu selesai
sampai titik itu saja, namun akan lebih mengacu pada sebuah pemahaman sederhana
buah pemikiran mahasiswa, yang bisa dikenal sebagai kaum intelektual. Namun
saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagi kaum samudera pemikiran, kaum muda
denga ribuan gagasan yang tak terbatas.
Alasan mengangkat topik Zionisme
Menggurita sendiri dikarenakan, meskipun hal ini memang kurang popular dikalangan
mahasiswa, dibanding dengan topik membangun bangsa kearah yang lebih baik atau
apalah yang intinya tentang nasionalisme kaum muda, yang memimpikan Indonesia
kearah yang lebih baik. Saya sendiri tak paradoks akan hal itu, jujur itu
memang tugas kita sebagai kaum muda. Tapi apa salahnya kita setidaknya juga
memahami permasalahan internasional terutama yang menyangkut masalah
keberagamaan. Zionisme sendiri punya makna yang luas, namun dalam pandangan
saya hal itu berarti sebuah pandangan politik yang dipakai kaum Yahudi untuk
mendirikan negara sendiri diatas wilayah negara Palestina. Sedangkan gurita
adalah simbolisasi binatang yang punya sejenis alat penggerak, tentakel yang
panjang dalam jumlah lebih dari satu. Yang berarti masalah Zionisme atau paham
ini mulai meracuni dunia demi sebuah kepentingan kaum semata dengan cara
menindas kaum lain, khusunya kaum muslim.
Semakin berkembangnya peradaban
zaman saat ini, secara perlahan juga mengikis kekuatan kaum muslim sendiri.
Pada tahun 1970-an hampir semua kaum muslim ikut menanggung masalah yang
melanda saudara kita di Palestina sana. Lalu 1980-an, tinggal masyarakat
jazirah Arab saja yang menanggungnya. Kemudian 1990-an, tinggal masyarakat
Palestina sendirilah yang menanggungnya hingga masuk pada tahun 2000-an sekarang
ini tinggal Hamas dan Al- Fattah saja. Padahal di Palestina sana ada sebuah
tempat bersejarah dimana Nabi Muhammad menerima wahyu shalat secara langsung dalam
peristiwa ‘Isra, yakni Masjidil ‘Aqsa. Mencengangkan memang namun inilah
realita yang ada saat ini.
Dan hal yang paling penting yang
membuat kita harus peduli adalah cara mereka (Israel), yang mematikan
intelektualitas masyarakat Palestina terutama generasi penerusnya, kaum muda.
Disini kita dengan bebasnya mempelajari berbagai ilmu yang ada dari sains
hingga sosial. Dan seharusnya kita memanfaatkan hal ini untuk mempertajam
keintelektualan pemikiran-pemikiran kita ini. Dan bayangkan, di Palestina sana
sangat sulit untuk mendapatkan hal seperti apa yang kita dapatkan saat ini.
Mereka harus berjuang untuk kebebasan bangsanya dan sekaligus juga kebebasan
intelektualitas mereka. Awalnya sebuah sekolah darurat yang dibangun untuk
menampung gelegak semangat pemuda Palestina untuk belajar, lambat laun sekolah
itu sepi senyap. Dan apa yang terjadi? bangku yang tadinya di duduki oleh pemuda,
kini ditinggalkan hanya dengan sebuah coretan pena saja, ”Syahid”. Yang
maknanya mereka telah gugur dalam keadaan syahid karena memperjuangkan
kebebasan negaranya dari sebuah zionisme terkejam pegangan Israel, sekaligus
membela agama mereka, Islam. Dan ini bukan sekadar pemanis tulisan saja, namun
hal ini realita dan benar-benar terjadi di negeri dimana Masjidil ‘Aqsa berada,
Palestina.
Yogyakarta, 21 April 2012
_G I E_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar